Mamuju – Mantan narapidana terorisme, Ali Fauzi, angkat bicara soal konflik Rohingya di Myanmar, yang dalam beberapa hari terakhir mengemuka di pemberitaan sejumlah media massa di Indonesia. Adik kandung terpidana kasus bom Bali, Amrozi, tersebut menilai konflik di Myanmar itu bisa memicu tumbuhnya kembali terorisme di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Ali Fauzi saat menjadi pemateri di kegiatan Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di kampus Universitas Tomakaka, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (6/9/2017). Dalam paparannya, Ali menceritakan awal mula munculnya terorisme di Indonesia yang dipicu oleh invasi Uni Soviet ke Afghanistan.

“Dari konflik di Afghanistan itu banyak muslim Indonesia yang berjihad ke sana. Itu bagian dari jihadul kahfi, solidaritas ke sesama muslim,” ungkap Ali.

Dalam konflik di Afghanistan, ketika peperangan berakhir muslim Indonesia yang sebelumnya berjihad kembali pulang ke kampung halaman dengan kondisi terlatif menggunakan senjata, merakit bom dan keahlian ala militer lainnya. Hal itulah yang kemudian memicu munculnya aksi terorisme di Indonesia.

“Dalam konflik Rohingnya di Myanmar sudah banyak muslim Indonesia yang bersiap jihad ke sana. Mereka yang nantinya kembali tentu sudah terlatih dengan sendirinya, dan itu berpotensi menjadi pelaku terorisme di Indonesia,” tegas Ali.

Sebagai langkah pencegahan, Ali mendesak sikap pro aktif pemerintah Indonesia untuk ikut serta memecahkan persoalan yang dihadapi muslim Rohingnya di Myanmar. Dikatakannya juga, dalam setiap konflik pasti ada yang diuntungkan, antara lain pasar gelap senjata dan pemasok senjata global yang mendapat keuntungan besar.

“Tapi kita bersyukur pemerintah Indonesia cukup baik berperan mengatasi permasalahan saudara-saudara kita muslim Rohingya. Ini akan meredam keinginan jihad kahfi muslim Indonesia ke Myanmar,” tandas Ali.

Dalam kesempatan yang sama Ali juga menyebut adanya jenis jihad lainnya, yaitu jihadul thalab, perintah membunuh kelompok kafir. “Tapi jihad thalab tidak tepat dilakukan di Indonesia, karena tidak ada istilah kafir di sini. Pemerintah mengakui agama-agama selain Islam, dan mereka yang tidak beragama Islam adalah saudara kita yang tidak boleh dibunuh,” pungkasnya.

Dialog Pelibatan LDK dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di Universitas Tomakaka terselenggara atas kerjasama BNPT dan FKPT Sulawesi Barat. Kegiatan yang sama sudah dan akan dilaksanakan di 32 provinsi se-Indonesia sepanjang tahun 2017. [shk/shk]