Nusa Dua – Keterlibatan BNPT mewakili Indonesia dalam penanggulangan terorisme di hadapan dunia semakin terlihat. Pencapaian serta upaya-upaya BNPT dalam penanggulangan terorisme telah menjadi contoh dan diadopsi oleh banyak negara dalam menghadapi gelombang radikalisme dan terorisme. Demikian ucap Kepala BNPT dalam penyelenggaraan Global Counter Terrorism Forum (GCTF) Second Regional Workshop on Initiative on Addressing The Challenge of Returning Families of Foreign Terrorist Fighters.

Workshop yang digelar GCTF kali ini dipimpin oleh Amerika Serikat dan Belanda. Workshop yang digelar selama dua hari ini bertempat di hotel Courtyard by Mariott, Nusa Dua, Bali diadakan sejak tanggal 7 Mei hingga 8 Mei 2018. Mewakili Indonesia sebagai co-host, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius M.H., dan Kapolda Bali Irjen. Pol. Dr. Petrus R. Golose M.M., menyambut segenap peserta workshop.

Selain didampingi oleh Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus R. Golose, Kepala BNPT juga didampingi oleh jajaran direktur. Beberapa di antaranya ialah Direktur Regional & Multilateral BNPT Andhika Chrisnayudhanto, Direktur Bilateral BNPT Kombes Pol. Drs. Kris Erlangga A.W., dan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof. Dr. Irfan Idris M.A. Peserta Global Counter Terrorisme Forum terdiri dari puluhan negara, organisasi serta perwakilan kampus.

Dalam sambutannya Kepala BNPT mengatakan Foreign Terorrist Fighters (FTF) kali ini menjadi fokus diskusi workshop. Membahas penanganan FTF menjadi penting karena fenomena FTF menjadi tantangan dan ancaman tersendiri dalam skala nasional, regional dan internasional.

“Kami Indonesia, menimbang diperlukannya pendekatan berimbang antara penegakkan hukum dan pencegahan. Pencegahan sebagai tulang punggung tanggapan pertama dalam menghadapi FTF, karena kalau penegakkan hukum saja tidak akan menghasilkan hasil yang berkelanjutan bagi kehidupan mereka. Maka BNPT menggalakkan program deradikalisasi, rehabilitasi dan reintegrasi sosial agar hasil dari penanganan FTF bersifat berkelanjutan,” ujar Kepala BNPT.

Pemimpin workshop GCTF kali ini ialah dua negara yaitu Amerika Serikat oleh Mr. Irfan Saeed, Director for the Office of Countering Violent Extremism, Department of State, United State of America dan Belanda oleh Mr. Lars Tummers, Special Envoy on Counterterrorism, Ministry of Foreign Affairs, the Netherleands turut memberikan sambutan. Dalam sambutannya keduanya mengajak seluruh peserta untuk aktif berdiskusi dan melakukan pertukaran informasi untuk membantu masing-masing negara menghadapi fenomena Foreign Terrorist Fighter (FTF).

“Indonesia dan BNPT sudah sangat vokal dalam mengutarakan pembahasan penanganan Counter Violent Extremism dan FTF. Sebelum memulai kita perlu memahami bahwa menghadapi FTF adalah menghadapi keluarga seperti pasangan dan anaknya. Bersama-sama mari kita bentuk suatu sudut pandang dalam mempersiapkan diri menghadapi FTF.

Ditemui usai pembukaan workshop, Kapolda Bali menyatakan rasa terima kasih atas diadakannya workshop GCTF di Bali. Menurutnya Bali sebagai bukti nyata kehadiran FTF dapat menjadi pembelajaran para peserta.

“Bali Bombing II itu kan disebabkan oleh FTF asal Afghanistan. Yang diurusi BNPT itu bukan hanya fighters-nya, tapi anaknya dan pasangannya bahkan keluarganya, ini memang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Kami kepolisian dan BNPT menggunakan aspek pendekatan keras dan lunak, meskipun BNPT lebih menekankan pendekatan lunak dan kami Kepolisan menekankan pada pendekatan keras. Namun kita kerja sama, tujuannya adalah bagaimana kita bisa meminimalisir dan mengurangi potensi mereka menjadi radikal,” Ujar Kapolda Bali.

Di saat yang sama, Kepala BNPT menyatakan harapannya terhadap digelarnya Workshop GCTF ini. Mantan Sestama Lemhannas berharap dengan digelarnya Workshop ini dapat memperkuat kerja sama dan mendekatkan hubungan para peserta dalam menghadapi tantangan kembalinya keluarga dan FTF secara efektif dan efisien. Ia juga berharap dengan berbagai sesi dan kajian dalam workshop ini dapat memberikan manfaat yang signifikan.