Bandar Lampung – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung menyelenggarakan Lomba Video Pendek bertema “Satu Indonesia” dan Diskusi Film untuk pelajar setingkat SMA dan sederajat pada Kamis pagi (14/3). 

Bertempat di Hotel Horison, Bandar Lampung, kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, S.T., M.M. dan Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat, Dr. Hj. Andi Intang Dulung, M.H.I. serta Ratrikala Bhre Aditya, sutradara muda dari Miles Film selaku dewan juri dalam Lomba Video Pendek ini.

Pelibatan Pelajar SMA dan Sederajat dalam kegiatan lomba video pendek ini merupakan salah satu upaya mengajak masyarakat untuk mewaspadai radikalisme. Melalui video pendek sebagai sarana, diyakini memiliki daya gugah dan pengaruh efektif khususnya bagi generasi muda yang dapat menguatkan daya tangkal untuk menolak ajakan kekerasan yang diinisiasi kelompok radikal terorisme.

Setelah sebelumnya melalui proses penjurian, terdapat tiga video pendek yang telah terpilih sebagai pemenang mewakili Provinsi Lampung. Tiga karya terbaik ini nantinya akan dibawa ke penjurian tingkat nasional di Jakarta untuk bersaing dengan pemenang video pendek dari Provinsi lainnya.

Di hadapan ratusan pelajar SLTA yang hadir dalam kegiatan ini, Sekretaris Utama BNPT,
Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, S.T., M.M. berkesempatan mengajak para pelajar tersebut untuk menjauhi paham radikalisme dan terorisme. Salah satu cara sederhananya adalah dengan tidak saling menjelek-jelekkan sesama. ”Hati-hati jangan coba-coba bersikap intoleran, misalnya menjelek-jelekkan guru maupun sesama teman. Saling mengejek dapat berpotensi menjadi radikalisme” ujar Sestama BNPT dalam sambutannya.

Sestama BNPT juga memberikan penjelasan mengenai berbagai sebab terjadinya terorisme. Faktor terjadinya terorisme antara lain disebabkan oleh kesalahan dalam menafsirkan agama, balas dendam, kemiskinan, ketidakadilan, pendidikan dan politik. Dr. A. Adang Supriyadi lalu melanjutkan bahwa radikalisme dapat bersifat positif atau negatif. Radikalisme positif menghasilkan output seperti bela negara, tekun belajar, gotong royong, dan melestarikan kearifan lokal. Sementara radikalisme negatif memunculkan sikap intoleran, anti Pancasila, anti NKRI dan penyebaran paham takfiri.

Acara kali ini juga diisi oleh pemutaran film bertema toleransi dan keberagaman berjudul ‘Damai Dalam Kardus’, sebuah film dokumenter pemenang Eagle Awards tahun 2018. Para pelajar diberi kesempatan untuk berdiskusi secara aktif untuk membahas film tersebut setelah pemutaran. Hal ini dapat menggugah cara berpikir kritis para pelajar untuk lebih peka dengan keadaan di lingkungan sekitar mereka dan diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai toleransi ke dalam kehidupan mereka sehari-hari.