Kuala Lumpur – Menanggulangi terorisme membutuhkan tindakan dari berbagai perspektif, salah satunya adalah dengan menanggulangi masalah pendanaan terorisme. Beberapa waktu lalu, BNPT telah melakukan kerja sama dengan PPATK dalam penyusunan dan peluncuran White Paper terkait pemetaan risiko pembiayaan terorisme domestik yang terafiliasi dengan ISIS. Atas peluncuran buku tersebut, Kepala BNPT hadir sebagai narasumber pada acara 3rd Counter-Terrorism Financing (CTF) Summit yang berlangsung selama tanggal 20-23 November 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH yang berbincang pada sesi “Setting the Scene for the Future of TF Response in the Region” yang berlangsung pada Selasa (23/11/2017), mengingatkan bahwa menjaga keamanan wilayah adalah tujuan dan tanggung jawab bersama. Di hadapan ratusan perwakilan dari 32 negara, Kepala BNPT menyampaikan pentingnya meningkatkan kerja sama internasional dalam penanganan terorisme termasuk dalam hal penanganan pendanaan terorisme.

“Ancaman terorisme yang tidak main-main tidak bisa ditanggulangi sendiri. Di Indonesia, upaya lintas Kementerian / Lembaga terus dijalin. BNPT dan PPATK beberapa waktu lalu merilis White Paper terkait peta resiko pendanaan terorisme. Buku ini sebagai panduan pemahaman resiko dengan baik, di mana negara akan mampu menerapkan tindakan penanggulangan dengan tepat. White Paper ini sebagai upaya kami memecah rantai pendanaan terorisme domestik yang terafiliasi dengan ISIS,” ujar Kepala BNPT.

Beliau juga mengingatkan bahwa kondisi ISIS yang sedang mengalami kekalahan tetap harus menjadi kewaspadaan bersama. Hal ini mengingat kemampuan beradaptasi dan propaganda yang secara masif dilakukan kelompok teroris di dunia maya masih menjadi ancaman nyata. “ISIS akan bermetamorfosis untuk membentuk strategi dan gerakan baru, mencari episentrum lain dan juga pemimpin baru setelah Baghdadi,” ujan mantan Sekretaris Utama Lemhannas.

Sementara itu, hubungan kuat antara kelompok terafiliasi ISIS dan jaringannya di Asia Tenggara yang menjurus pada penyelundupan senjata api, pelatihan, dan pendanaan terorisme yang menambah ancaman. Merujuk pada penggunaan dana terorisme yang memberdayai aktivitas operasional dan organisasi kelompok teroris, upaya penelusuran dana teroris dapat secara optimal mencegah dan melawan kejahatan terorisme.

Menurut mantan Kabareskrim Polri ini, memerangi pendanaan terorisme di wilayah menuntut implementasi berupa tindakan nyata dari pertukaran informasi antar negara yang kuat dan efektif. Ia mengajak para perwakilan negara yang hadir untuk memperkuat dan memperbaiki kerja sama yang melibatkan sektor pribadi dan masyarakat.

“Saya sangat optimis dengan hal ini. Indonesia selalu siap menyambut segala upaya untuk memperkuat kerja sama internasional untuk melawan terorisme dan pendanaannya,” tutup Suhardi Alius.

Setelah sebelumnya diselenggarakan di Nusa Dua (2nd CTF Summit 2016),  pertemuan ke-3 ini  terselenggara atas kerjasama Financial Intelligence Unit (FIU) tiga negara yaitu, Malaysia (Bank Negara Malaysia, Indonesia (PPATK) dan Australia (AUSTRAC). Pertemuan ini memiliki tujuan untuk untuk meningkatkan pemahaman, koordinasi dan kerja sama pertukaran informasi intelijen antara Financial Intelligence Unit (FIU), instansi penegak hukum, industri keuangan dan akademisi pada tingkat internasional khususnya berkaitan dengan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme.