Palu – Budayawan asal Sulawesi Tengah, Andi Tjatjo T. Saiye, mendukung program Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mengangkat kearifan lokal sebagai sarana pencegahan terorisme. Untuk tujuan penguatan, dia mengusulkan kearifan lokal bisa dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

“Orang Kaili dikenal karena kelembutannya, menerima siapapun yang datang dengan baik. Bagi saya ada beberapa hal yang harus diperhatikan Pemerintah, kalau bisa dimasukkan ke dalam kurikulum. Pertama, penanaman budi pekerti yang baik,” kata Tjajto saat menjadi narasumber di kegiatan Pelibatan Komunitas Seni dalam Pencegahan Terorisme di Palu, Sulawesi tengah, Kamis (23/3/2017).

Dalam paparannya Tjatjo juga menyoroti adanya aktifitas peningkatan dakwah. Menurutnya, keterlibatan orangtua dalam pengawasan terhadap anak-anaknya terkait dakwah harus ditingkatkan. “Banyak orangtua menyerahkan pendidikan ke sekolah, padahal pendidikan tidak hanya dari sekolah saja,” tegasnya.

Penguatan kearifan lokal sebagai sarana pencegahan terorisme juga diungkapkan oleh Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris. Menurutnya, banyak seni dan budaya di Indonesia yang harus dilihat dengan kacamata keberagaman, bukan keseragaman.

“Sangat banyak kearifan lokal untuk diangkat ke tingkat nasional. Bila ada benturan budaya, bagaimana mengawinkan budaya yang ada,” kata Irfan di forum yang sama.

Irfan menganalogikan kearifan lokal sebagai imunitas untuk tubuh. Jika kearifan lokal sebuah daerah tidak dijaga dan terus dikuatkan, maka ancaman perpecahan yang berujung pada radikalisme dan terorisme bisa terjadi. “Kapan lemah imunitas Negara, maka akan masuk penyakit dalam kehidupan berbangsa,” tandasnya.

Kegiatan Pelibatan Komunitas Seni dalam Pencegahan Terorisme dilaksanakan oleh BNPT dengan menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi se-Indonesia. Selain budayawan lokal, kegiatan di Sulawesi Tengah juga melibatkan sejumlah nama sastrawan nasional, antara lain Fikar W. Eda dan Aan Mansyur. [shk]