Deli Serdang – Tak lama selang Kepala BNPT menerima kunjungan Menlu Belanda ke Yayasan Lingkar Perdamaian, Lamongan, Jawa Timur, Kepala BNPT kembali menerima delegasi Bundeskriminalamt (BKA) Jerman. Masih meliputi kunjungan di titik-titik penerapan deradikalisasi BNPT, kali ini delegasi BKA Jerman mengunjungi Pondok Pesantren di Deli Serdang, Medan.

Bertempat di Pondok Pesantren Al-Hidayah, kunjungan tersebut berlangsung pada Rabu (11/7) pagi. Dalam mendampingi delegasi BKA Jerman yang dipimpin oleh Wakil Presiden Bundeskriminalamt, Michael Kretschmer, Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. diiringi oleh Direktur Kerja Sama Bilateral BNPT, Brigjen Pol. Drs. Kris Erlangga dan Direktur Perlindungan BNPT, Birgjen Pol. Drs. Herwan Chaidir.

Delegasi BKA Jerman, Kepala BNPT beserta jajarannya, serta pimpinan dan pengurus pondok pesantren duduk bersama dalam salah satu ruangan kelas. Kegiatan diawali dengan paparan singkat Kepala BNPT terkait pengenalan hubungan BNPT dengan pondok pesantren tersebut.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Suhardi Alius mengatakan keterlibatan serta dukungan BNPT terhadap pembangunan serta pengembangan pondok pesantren tak lain adalah bentuk pendekatan lunak (soft approach) BNPT. Pendekatan lunak yang digunakan BNPT salah satunya ialah identifikasi akar masalah terorisme, seperti masalah keluarga teroris.

“Pendekatan hard approach saja tidak bisa menyelesaikan masalah. Dukungan kepada ponpes ini bentuk dari resolusi akar masalah terorisme pada bagian hilir. Saya melihat Ustad Khairul Ghazali memiliki pesantren kecil, tanpa masjid dan ruang kelas yang seadanya. Semangat, niat baik, dan usahanya kami kira perlu didukung,” ujar kepala BNPT.

Pondok pesantren Al-Hidayah yang dipimpin dan digagas oleh mantan teroris, Ustad Khairul Ghazali tersebut bertujuan untuk menampung anak-anak dari keluarga mantan teroris. Tujuannya ialah untuk mencegah anak-anak tersebut memilih jalan yang salah serta menghindarkan mereka dari isolasi masyarakat.

“Saya berterima kasih sekali atas dukungan dari negara khususnya BNPT dalam pembangunan pondok pesantren ini. Terorisme itu tidak bersifat genetik dan tujuan kami mendirikan sekolah ini ialah untuk memotong mata rantai terorisme sejak usia dini,” tegas Khairul.

Kegiatan kunjungan dilanjutkan dengan melakukan sesi foto bersama dan pertukaran cinderamata kepada Kepala BNPT dengan Wakil Presiden Bundeskriminalamt Jerman. Delegasi BKA Jerman juga memberikan bingkisan berupa alat-alat pendukung kegiatan sekolah kepada sejumlah santri yang hadir. Selanjutnya Delegasi Jerman mengelilingi pondok pesantren ditemani oleh Ustad Khairul Ghazali dan Kepala BNPT.

Di penghujung kegiatan, Wakil Presiden Bundeskriminalamt mengaku sangat terkesan dan mengapresiasi kerja Khairul Ghazali dan Kepala BNPT. Menurutnya, kunjungan ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi Jerman. Utamanya ialah program yang digunakan yaitu program pencegahan.

“Kunjungan ini sekaligus menjadi studi banding bagi kami terkait program pencegahan, bagaimana mencegah radikalisme, mencegah seseorang menjadi teroris atau kembali menjadi teroris. Ini menjadi contoh yang baik bagi negara lain, terutama Jerman. Karena kami ingin keluarga, anak-anak, dan mantan teroris ke depannya dapat kembali terintegrasi ke tengah masyarakat dan tidak kembali ke jalan yang dahulu. Di program ini saya melihat pelibatan emosi dan tindakan nyata yang sangat baik,” ujar Kretschmer.

Menanggapi hal tersebut, mantan Sekretaris Utama Lemhannas tersebut mengatakan kunjungan ini sebagai sarana berbagi pengalaman. Pada kunjungan Kepala BNPT ke Jerman beberapa waktu lalu, Jerman menerima paparan mengenai Lamongan dan Deli Serdang sebagai percontohan program pencegahan.

“Dua tempat (Lamongan dan Deli Serdang) ini menjadi ikon dunia yang menunjukkan adanya titik balik mantan teroris dan keluarganya untuk dapat kembali diterima masyarakat. Dari Jerman pula, Indonesia dapat mempelajari pengalaman mereka yang kerap berhadapan dengan isu extremisme kanan dan kiri. Jadi ini seperti berbagi pengalaman terhadap hal-hal baru bagi masing-masing negara,” ujar Drs. Suhardi Alius, M.H.

Dengan adanya kunjungan dari Jerman dan berbagai negara, Khairul Ghazali mengutarakan harapannya kepada dunia dan masyarakat. Kunjungan-kunjungan seperti ini diharapkannya dapat mengurangi radikalisme dan terorisme.

“Bagi kawan yang pernah terlibat dalam aksi teror semoga sadar bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin. Lebih bagus membangun dan mendidik, daripada menghancurkan,” tutupnya.