Bandung – Membangun dialog kebangsaan khususnya pembahasan penanganan intoleransi dan radikalisme perlu dipahami oleh berbagai unsur masyarakat, tak terkecuali kalangan aktivis dari unsur seniman dan budayawan. Menyadari hal ini BNPT mengisi acara refleksi akhir tahun Indonesia Kita: Dialog Kebangsaan Fenomena Intoleransi dan Radikalisme di Nusantara.

Bertempat di Ruang Theater, NuArt Sculpture Park, Jl. Setraduta Raya Bandung, Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH mengisi acara Dialog pada Sabtu (14/12) pagi. Selain Kepala BNPT, turut menjadi narasumber di antaranya Gubernur Lemhannas RI, Letjen (Purn) Agus Widjojo dan Ketua Lakpesdam NU Jabar, Asep Salahudin.

Dimoderatori Ipong Witono, dialog kebangsaan diawali dengan pembukaan oleh I Nyoman Nuarta, Seniman Indonesia serta Tokoh Politik Senior, Sarwono Kusumaatmadja. Dalam sambutannya, I Nyoman Nuarta menyampaikan keresahannya terhadap fenomena yang tengah menjangkit di masyarakat Indonesia yakni intoleransi radikalisme. Ia juga menyampaikan kesiapan komunitas relawan kebangsaan untuk mendukung program-program penguatan nilai kebangsaan serta penanggulangan terorisme.

Sementara itu mantan Menpan RB, Sarwono Kusumaatmadja mengajak para peserta untuk mengenang kembali kekuatan Indonesia dalam melawan penyakit kebangsaan. Ia mengatakan Indonesia memiliki tradisi kemenangan melawan gangguan eksternal.

“Pencetusan proklamasi melawan konferensi Amsterdam, Deklarasi Juanda secara sepihak melawan hukum Internasional yang hanya melalui diplomasi, tanpa butir peluru, kita berhasil memenangkan kembali wilayah perairan Indonesia. Intoleransi bukan budaya kita, konsep dari luar ini akan kita lawan dan kita menangkan kembali, mari kita ciptakan energi positif,” ujar Sarwono Kusumaatmadja.

Dalam sesi dialog yang diawali oleh Gubernur Lemhannas, Letjen (Purn) Agus Widjojo menyampaikan dinamika perkembangan intoleransi dan radikalisme yang telah mengakar di masyarakat lama dan dalam. Karenanya dibutuhkan konsep penanggulangan dan upaya yang menyeluruh serta konsistensi dari seluruh pihak.

“Ini merupakan perkembangan dinamika modernisasi, tapi perubahan tidak bisa ‘digedor’ dari luar. Untuk menangani intoleransi dan radikalisme kita perlu berdamai dari dalam, kita telusuri bentuk diskursus kreatif untuk menghadapinya,” ujar purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat tersebut.

Memasuki sesi Dialog Kepala BNPT, Komjen Pol Drs. Suhardi Alius menyampaikan pengaruh intoleransi dan radikalisme sebagai rantai ancaman persatuan bangsa. Setidaknya terdapat beberapa sektor yang perlu pengawasan dari infiltrasi masukanya pemahaman negatif. Hal ini menuntut inovasi pendekatan penanggulangan radikal terorisme.

“Sektor budaya, pendidikan dan kemajuan teknologi ini perlu pengawasan. Kemajuan teknologi yang dapat melunturkan identitas nasional di kalangan anak muda, budaya yang kian melemah serta SDM pendidikan yang justru menjadi agen radikalisme, ini yang kita hadapi,” ujar Kepala BNPT.

Dihadapan puluhan aktivis budayawan dan seniman, mantan Sestama Lemhannas tersebut mengajak para peserta dialog untuk tidak lagi diam. Sosialisasi anti intoleransi serta narasi perdamaian perlu digaungkan dalam menghadapi sel-sel radikal yang ‘tidur’.

“Jangan salah, keragaman adalah anugerah, namun semakin maju perkembangan jangan sampai kita kehilangan identitas kita. Diam tidak lagi emas. Ke depannya kita siapkan akhlak dan moral untuk persiapan generasi sekarang dan mendatang. Di lagu Indonesia Raya apa yang kita nyanyikan duluan? Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya. Kita terus upayakan dan wujudkan hal ini,” ujar Kepala BNPT.

Apresiasi disampaikan dari seluruh peserta dalam sesi tanya jawab. Masukan serta kritik disampaikan terhadap seluruh narasumber. Usai sesi tanya jawab para narasumber beserta moderator melakukan foto bersama serta pertukaran cinderamata.