Jakarta – Upaya infiltrasi radikal terorisme yang dapat merusak persatuan bangsa terus digalakkan. Langkah ini membutuhkan kesadaran kolektif dari berbagai pemangku kepentingan utamanya dari sektor keamanan dan pertahanan. Jalur laut yang dapat menjadi lajur masuknya radikal terorisme, membutuhkan pengawasan ketat guna menghindari penyalahgunaan. Hal ini mendorong Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia melibatkan BNPT dalam kegiatan Briefing Operasi Bakamla RI Tahun 2019.

Bertempat di Aula Markas Besar Bakamla RI, Gedung Perintis Kemerdekaan Menteng Jakarta Pusat, kegiatan dihadiri oleh Sekertaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi S.T., M.M. Materi yang disampaikan dalam kegiatan kali ini ialah pembekalan BNPT tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan Terorisme di wilayah perbatasan maritim antara Indonesia dan Filipina.

Kegiatan Briefing Operasi dan Gladi Posko Operasi Kemanan dan Keselamatan Laut tersebut bertujuan untuk menyamakan pola pikir dan pola tindak. Utamanya agar personel pengendali dan pelaksana operasi di laut terbekali dalam menangani permasalahan yang terjadi.

Membuka materi, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi mengenalkan terlebih dahulu identifikasi teroris dan pentahapan terbentuknya seseorang menjadi teroris serta perkembangan terorisme terkini. Infiltrasi yang tak dapat terhindarkan tersebut perlu dikenali keberadaannya, utamanya bagi penjaga perbatasan negara.

“Walaupun gelombang baru banyak utilisasi jaringan online, namun bukan berarti di dunia nyata bisa kita sepelekan. Sebagai sumber daya manusia penjaga NKRI dan aparat penegak hukum, radikal terorisme bisa saja menginfiltrasi diri kita, jadi kita juga harus bekali diri dan mampu identifikasi radikal terorisme di sekitar,” ujar Sestama BNPT.

Sementara itu, Dosen Universitas Pertahanan tersebut menyampaikan fakta adanya daerah di perairan Sulawesi Utara yang dimanfaatkan oleh jaringan teroris. Hal ini menyusul laporan adanya kelompok yang terafiliasi jaringan teroris yang melakukan perompakan dan pembajakan kapal.

Sestama BNPT juga menyampaikan bahwa saat ini BNPT berafiliasi dengan 36 Kementerian / Lembaga dalam program Sinergisitas. Dalam hal ini, akar permasalahan serta pola penanggulangan yang kompleks dapat dikerjakan bersama sesuai dengan pemangku kepentingan. Sulawesi Tengah dalam hal ini juga menjadi daerah perhatian Sinergisitas.

“Kami juga memanjangkan upaya penanggulangan di Sulawesi Tengah. Saya rasa ini bisa menjadi daerah kerja sama agar dapat terbentuk sinergi penanggulangan terorisme,” ujar Sestama BNPT.

Ditemui usai kegiatan, Direktur Operasi Laut Bakamla RI, Laksmana Nursyawal Embun mengatakan pembekalan yang diberikan Sestama BNPT sangat bermanfaat bagi para peserta. Khususnya dalam pembinaan personil dan pelaksanaan tugas-tugas pokok dalam pengamanan di laut.

“Menjadi catatan kami adanya wilayah yang digunakan sebagai perlintasan kegiatan teroris. Dan ke depannya kami akan melaksanakan rapat perencanaan dengan teman-teman coast guard Filipina, dan ini menjadi masukan kami. Kami sangat menduung upaya penanggulangan terorisme,” tutupnya.