Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme senantiasa memberikan pemahaman mendasar tentang ancaman radikalisme dan terorisme. Akar permasalahan terorisme yang beragam, penanganannya perlu ditangani bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya menjadi tanggung jawab instansi pemerintah atau aparat penegak hukum semata, generasi muda juga bisa ikut andil memerangi bahaya radikalisme dan terorisme.

Masih dalam semangat Hari Kemerdekaan RI ke-74, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) RI menyelenggarakan seminar nasionalisme bertajuk “Nationalism and Radicalism in the Borderless Era” pada Selasa (20/08) pagi di Aula Gedung DJKN, Jakarta. Acara ini terselenggara atas inisiatif dari DJKN Muda yang terdiri dari para milenial di lingkup DJKN.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, S.H., M.H., berkesempatan menjadi salah satu narasumber dalam seminar kali ini dan berbicara banyak mengenai pentingnya mempertahankan karakter bangsa bagi generasi muda. Diharapkan setelah seminar para peserta dapat menyikapi perubahan dan pergeseran nilai sesuai perkembangan zaman secara positif dengan tetap mempertahankan nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Seminar yang juga terbuka untuk publik ini dihadiri oleh dua narasumber lain guna menelaah permasalahan dari sudut pandang lain, yaitu Ali Abdullah W., M.A., Ph.D, pengajar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang akan membahas dari sisi akademis serta Aurelia Vizal, Ambassador Generasi Melek Politik sebagai perwakilan dari generasi muda.

Isa Rachmatarwata selaku Direktur Jenderal Kekayaan Negara memberikan sedikit pengantar di awal acara seminar nasionalisme ini. “Kami berharap khususnya kepada DJKN Muda agar dapat menjadi tim yang menggerakan perubahan-perubahan baik di institusi ini, kelompok anak muda yang menggelorakan nasionalisme, pengawal persatuan dan kesatuan. Mudah-mudahan hal ini membangun semangat kita untuk menjaga persatuan kesatuan negara. Kita memang sudah ditakdirkan lahir di tanah air Indonesia yang penduduknya beragam, jangan sampai hanya karena ada slip of the tongue kemudian kita terbakar emosi dan memicu keresahan bahkan mungkin riot (kerusuhan),” ujar Direktur Jenderal KN.

Kepala BNPT kemudian mengawali paparannya dengan memberikan pemahaman wawasan kebangsaan yang kini tenggelam di kalangan anak muda. Mantan Kabareskrim Polri ini menceritakan keadaan dimana banyak anak muda yang kurang nasionalis, bahkan tidak lagi hafal lagu-lagu daerah maupun nama-nama pahlawan negara. Hal sesederhana ini bisa saja menjadi celah masuknya paham radikalisme. Padahal generasi muda Indonesia adalah pemegang kunci perubahan yang akan mengantarkan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Disampaikan oleh Kepala BNPT bahwa generasi muda saat ini harus memiliki kualitas kepemimpinan yang sensitif terhadap perubahan-perubahan di sekitar mereka dan menjadi solutif bukannya provokatif. Mengingat peliknya fenomena terkait rentannya infiltrasi radikalisme dan terorisme di kalangan anak muda. Metode perekrutan dan penyebaran paham radikalisme bagi kelompok organisasi teroris telah beradaptasi menjadi modern. Metode baiat atau perekrutan dengan cara bertatap muka langsung kini telah mengalami pergeseran cara tidak langsung memanfaatkan teknologi internet, sehingga menjadikan anak muda target empuk infiltrasi paham radikalisme negatif karena termasuk golongan usia pengguna internet paling aktif.

Generasi muda kini bisa ikut andil cegah radikalisme dan terorisme bahkan menjadi agent of change yaitu dengan bijaksana menggunakan media sosial. “Kejadian yang akhir-akhir ini terjadi beredar cepat di dunia maya, provokasi-provokasi sosial media yang mendorong orang melakukan hal yang tidak baik. Anak muda khususnya yang sedang pegang gadget bisa memiliki kemampuan filter dan verifikasi. ‘Saring sebelum sharing’. Dampaknya luar biasa besar bila salah memberikan informasi,” tutup Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, S.H., M.H.

Kepala BNPT lalu berujar bahwa celah masuknya paham radikalisme besar terbuka dari friendship maupun kinship, sehingga para hadirin diimbau untuk mengingatkan keluaga dan teman-teman di lingkungannya supaya tidak terjerumus mengikuti paham selain NKRI. “Mereka inilah yang masih memiliki idealisme tinggi, masih mudah dipengaruhi karena memiliki keinginan dan cita-cita yang banyak, tapi harus diingatkan siapa jati dirinya. Tolong bertindak cermat, kalian ini masa depan Indonesia. Di antara kalian ini nantinya akan lahir Menteri-Menteri Keuangan Indonesia yang baru. Tanamkan kepercayaan pada diri sendiri kalau ‘saya harus mampu’, hingga benar-benar akan sebuah keniscayaan,” ujar Kepala BNPT memberi dorongan motivasi.

Komjen Pol. Suhardi Alius, S.H., M.H., kemudian menjelaskan tentang sepak terjang BNPT mengatasi permaslahan terorisme dari hulu ke hilir. Diceritakan juga beberapa program BNPT yang telah mendunia karena menggunakan pendekatan humanis yang tidak dimiliki negara lain. Banyak yang menganggap enteng langkah BNPT ini, namun Kepala BNPT percaya jika menggunakan kekerasan, akan menimbulkan permasalahan baru.

Ditemui usai acara, Sekretaris Jenderal Kekayaan Negara, Dedi Syarif Usman menanggapi secara positif mengenai paparan yang disampaikan oleh Kepala BNPT pada acara kali ini. “Kita berupaya dan ikhtiar untuk mencegah jangan sampai ada radikalisme di lingkungan Kementerian Keuangan. Kita ingin di lingkungan Kemenkeu bahkan keluarga para karyawan dan lingkungan sekitarnya, menyadari akan dampak yang ditimbulkan radikalisme yang sangat merusak bangsa. Kita harapkan itu tidak terjadi disini,” ujar Sekretaris DJKN.