Vatikan – Kunjungan kerja dalam rangka menyebarkan kesadaran penanggulangan terorisme dan mempererat kerja sama terus digiatkan oleh BNPT. Kali ini Kepala BNPT beserta delegasi bertolak melakukan kunjungan untuk memberikan paparan dalam Seminar MIKTA, Vatikan.

Bertempat di salah satu Universitas milik Vatikan, Pontificial Urban University, paparan disampaikan pada Kamis (25/10). Indonesia sebagai bagian dari MIKTA yang beranggotakan negara Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia, hadir dalam seminar internasional yang mengangkat tema “Penanggulangan Kejahatan Transnasional”. Seminar Internasional tersebut diprakarsai oleh empat Kedutaan Besar untuk Takhta Suci Vatikan (TSV) yang sekaligus anggota dari MIKTA, terkecuali Meksiko.

Tema seminar “Penanggulangan Kejahatan Transnasional” dipilih berdasarkan isu prioritas keketuaan Indonesia dalam MIKTA tahun 2018 yang mengusung tema “Fostering Creative Economy and Contributing to Global Peace”.

Selain Kepala BNPT, hadir narasumber lainnya dari negara anggota MIKTA yaitu Youngja Bae dari Korea yang berbicara tentang kejahatan siber, Aylin Tashan dari Turki memaparkan strategi Turki dalam menangani terorisme, dan Andrea Humphrys dari Australia fokus pada isu perdagangan manusia.

Usai seminar dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk TSV sekaligus koordinator MIKTA untuk perwakilan TSV, Antonius Agus Sriyono, Kepala BNPT menyampaikan paparannya. Dalam paparannya, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., membahas Upaya Indonesia dalam Mencegah dan Menanggulangi Terorisme.

Sebagai Delegasi Indonesia, mantan Sestama Lemhannas tersebut mengatakan bahwa Terorisme tidak bisa dan tidak boleh dikaitkan dengan agama, kebangsaan maupun budaya apapun.

Lebih lanjut, Komjen Pol. Suhardi Alius mengatakan upaya Indonesia dalam memberantas terorisme kini berlandaskan Undang-Undang No. 5 Tahun 2018. Indonesia menggunakan dua pendekatan yakni, pendekatan lunak yaitu kontra radikalisasi, deradikalisasi, kesiapsiagaan nasional serta pendekatan keras yaitu penegakan hukum dan pembinaan kemampuan.

Kepala BNPT mengajak para peserta melihat dari pengalaman Indonesia menghadapi radikal terorisme, dengan mengangkat kasus-kasus terorisme selama 2 tahun belakangan. Ialah bom Sarinah Jakarta, bom Panci Bandung dan 3 bom Gereja Surabaya yang telah menjadi kasus terorisme di Indonesia.

Tak lupa Kepala BNPT juga menayangkan video-video kegiatan BNPT seperti Silaturahmi Nasional 2018 yang menyatukan mantan narapidana terorisme yang telah sadar dengan para korban dan keluarga korban aksi terorisme, serta video upaya merangkul kembali mantan pelaku terorisme dipertontonkan di hadapan peserta seminar.

Di akhir seminar, Drs. Suhardi Alius memaparkan bahwa upaya penanggulangan akar terorisme perlu secara komprehensif dipahami oleh pemerintahan, perihal proses radikalisasi dan fenomena berkembangnya radikal terorisme di suatu daerah. Upaya komprehensif dan implementasi yang tepat sasaran tersebut dapat dicapai apabila terdapat pelibatan dan kerja sama dengan lembaga masyarakat, akademisi, serta sektor swasta.

Seminar ini dihadiri oleh anggota Korps Diplomatik untuk TSV, wakil dari pemerintah TSV, perwakilan organisasi internasional, perwakilan masyarakat, civitas akademika, dan media.