Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam kegiatannya senantiasa memberikan sosialisasi dan pemahaman mengenai bahaya radikalisme dan terorisme kepada masyarakat luas. Menghadapi dinamika dunia yang semakin kompleks, wawasan kebangsaan sebagai upaya mewujudkan cita-cita bangsa yang luhur dalam perjalanannya mengalami tantangan internal maupun eksternal, salah satu contohnya adalah radikalisme dan terorisme yang dapat mengancam ketahanan bangsa.

Kali ini, Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. berkesempatan memberikan pemahaman mengenai bahaya radikalisme dan terorisme sekaligus pembekalan untuk meningkatkan nilai-nilai kebangsaan dalam acara sharing session Bank Negara Indonesia (BNI) yang diadakan di Ruang Serbaguna Grha BNI, Jakarta (2/04).

Untuk menyempurnakan pemahaman dan peningkatan wawasan kebangsaan dan rasa nasionalisme, pembekalan mental pun tidak cukup, namun juga dibutuhkan pemahaman secara spiritual, sehingga dalam acara kali ini, turut hadir Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., Ph.D yang juga merupakan salah satu Kelompok Ahli BNPT sebagai pembicara.

Sharing session ini dihadiri oleh para pimpinan BNI termasuk Dewan Komisaris dan Direksi, serta pegawai di lingkungan kerja BNI. Acara ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan pegawai BNI. Diharapkan dengan adanya acara ini, peserta dapat memahami dan melakukan antisipasi bahaya radikalisme dan terorisme tidak hanya di lingkungan kerjanya namun juga menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Komisaris Utama BNI, Ari Kuncoro. Dalam sambutannya, Komisaris Utama BNI menyampaikan, “BNI sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara mempunyai komitmen yang jelas dan tegas, terhadap penegakan nilai-nilai kebangsaan. Lahirnya BNI-pun merupakan bagian dari perjuangan eksistensi NKRI, terutama sebagai simbol penegakan kedaulatan moneter”. Selanjutnya disampaikan bahwa insan BNI harus memanfaatkan acara ini sebagai sarana pembelajaran agar senantiasa berpandangan luas bahwa nilai-nilai kebangsaan didasari rasa kemanusiaan. Sehingga pada saat bersikap dapat saling menghormati rekan kerja dengan latar belakang suku, agama, dan keyakinan yang beragam tanpa sikap menjajah atau mengintimidasi. Berangkat dari sikap itu, kita dapat berkontribusi menegakkan pilar kebangsaan dan menjaga keutuhan berbangsa.

Selanjutnya acara diisi dengan pembekalan oleh Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. yang menjelaskan fenomena kemajuan teknologi yang pesat memberikan dampak positif namun pasti ada ekses negatifnya, termasuk mudahnya paparan radikalisme dan terorisme hanya melalui aplikasi online media sosial. Kepala BNPT lalu menekankan pentingnya filter terhadap informasi yang didapatkan melalui sosial media.

Selanjutnya kita dihimbau untuk memahami dampaknya dan sesegera mungkin mendeteksi jika di lingkungan kita terjadi fenomena maupun perubahan ke arah yang negatif. Dengan kultur masyarakat kita yang guyub dan kumpul, jika melihat ada yang memisahkan diri sampai membuat kelompok baru yang eksklusif hingga orang luar tidak boleh masuk, seharusnya kita perlu waspada dan segera melaporkan kepada pihak yang berwenang.

Tidak hanya pengertian lebih mendalam mengenai bahaya radikalisme dan terorisme yang ditanggapi secara antusias oleh peserta, namun juga mengenai sepak terjang Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. dalam memimpin BNPT selama ini, yang kemudian menjadi inspirasi para peserta. Aspek ini berdampak signifikan terutama bagi para peserta yang terdiri dari para generasi milenial yang nantinya akan menjadi penerus pimpinan BNI. Terutama cara berfikir ‘out of the box’ yaitu memimpin dengan hati, diimplementasikan pada program kerja BNPT yaitu dengan memilih jalan non kekerasan.

Ditemui di akhir acara, Endang Hidayatullah selaku Direktur Kepatuhan BNI menyampaikan bahwa sharing session dengan Kepala BNPT menjadi wadah pembelajaran yang inspiratif bagi pegawai di lingkungan BNI. “(Kegiatan) ini sangat inspiratif sekali untuk kita semua, dan perlu dipahami oleh semua pimpinan terkait dengan bahaya radikalisme itu. BNI ini kan bagian Republik Indonesia, tentu saja kita harus benar-benar bersih dari paham paham radikalisme sehingga kita bisa lebih fokus ikut serta membangun bangsa. Tadi banyak yang disampaikan beliau, tidak hanya mengenai bahaya radikalisme saja, namun juga menyampaikan tentang culture bekerja, bagaimana berinovasi, bagaimana kita harus membuat terobosan dan pemikiran yang ‘out of the box’ saat menjadi pemimpin. Dan bagian yang paling penting adalah bagaimana kita memimpin dengan hati kita” ujarnya.

Kepala BNPT-pun berharap agar kegiatan yang dihadiri oleh banyak jajaran pimpinan BNI ini dapat memberikan pemahaman yang utuh mengenai bahaya radikalisme dan terorisme. “Kita sampaikan lagi bagaimana kita mengenali masalah di lingkungan kita, termasuk masalah radikalisme dan yang mengarah kepada terorisme, bagaimana cara mengidentifikasinya dan treatment di lapangan apa saja yang harus kita kerjakan,” ujar Kepala BNPT saat mengakhiri kegiatan sharing session.