Jakarta – Forum Komunikasi dan Konsultasi Badan Pembina Rohani Islam Nasional mengundang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M. H, menjadi pembicara dalam acara Silaturahmi Nasional Sosial tentang Pembahasan Isu-isu Aktual Bidang Keormasan di Aula BPSDM, Kementerian Dalam Negeri Jakarta pada Sabtu (22/9/2018) siang.

Mengawali paparannya Kepala BNPT menjelaskan terkait informasi perkembangan program deradikalisasi di BNPT saat ini. Menurutnya pendekatan lunak (soft approach) yang berhasil digunakan BNPT dalam mencegah dan menanggulangi terorisme di Indonesia.

“Mantan terorisme itu semakin dimarginalkan mereka akan kembali ke kelompoknya. Untuk itu kami sentuh dengan hati menggunakan cara soft approach, kalo kita sentuh dengan hati dia akan melunak kepada kita, “ucap Suhardi Alius.

Sambil menjelaskan program penanggulangan radikalisme dan terorisme, Beliau juga memutarkan video kinerja BNPT dengan pendekatan lunak (soft approach) terhadap mantan napiter.

“Berikut video kami melakukan soft approach dengan melakukan kunjungan ke kampung Amrozi di desa Tenggulun, Lamongan Jawa Timur, lalu kami membangun mesjid dan pondok pesantren di Lamongan dan Deli Serdang Medan kampung Khairul Ghazali untuk mengajak mantan napiter, keluarga dan anak-anak belajar dan kembali ke jalan yang benar “tegas Suhardi.

Selain itu, Komjen Suhardi Alius, juga memutarkan video pengakuan pelaku bom bunuh diri hotel JW Marriot tahun 2009 dan video kekerasan kaum radikal terorisme.

Usai ditemui acara, Alumni Akpol 1985 berharap setelah memberikan paparan terkait perkembangan terorisme kepada para peserta perwakilan dari kementerian, TNI, Polri, dan perguruan tinggi mereka dapat menyosialisasikan dan mendistribusikannya.

“Kita paparkan bagaimana BNPT dalam menangani masalah-masalah aktual penanggulangan terorisme. Sehingga kita harapkan mereka mempunyai kemampuan yang cukup untuk mendistribusikan apa yang kita sampaikan kepada para peserta “ujar Suhardi Alius.

Di akhir acara, Kepala BNPT juga memberikan waktu sesi tanya jawab dengan peserta terkait materi perkembangan radikal terorisme di Indonesia.