New York – Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., kembali diundang menjadi pembicara dalam sesi konferensi tingkat tinggi di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat pada hari Kamis (26/09) untuk memperkenalkan metode pendekatan soft power ke mata dunia. Hal ini menunjukkan adanya upaya yang serius dalam memerangi terorisme dan bukti komitmen bahwa Indonesia punya peran aktif menjaga keamanan dan memelihara perdamaian dunia.

Disela Sidang Umum PBB ke-74 ini, Kepala BNPT juga menghadiri Side Event “Strengthening Resilience to Violent Extremism in Asia (STRIVE ASIA) – A Joint EU-UN Partnership” yang digelar oleh Uni Eropa, bekerja sama dengan United Nations Office on Counter-Terrorism (UNOCT), United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), dan United Nations Development Program (UNDP). Pertemuan ini bertujuan untuk memperkenalkan inisiatif pengembangan perencanaan program – program inovatif terkait penguatan ketahanan terhadap ekstremisme berbasis kekerasan, khususnya di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Pertemuan STRIVE ASIA ini dibuka oleh Under Secretary General UN dan Kepala UNOCT, Vladimir Voronkov, yang menggarisbawahi mengenai eratnya keterkaitan antara aspek keamanan dan aspek pembangunan, serta pentingnya keterlibatan seluruh pihak baik sinergi antar badan pemerintahan serta pemerintah dengan organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam upaya pencegahan terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan.

“Engaging Law Enforcement in the Prevention Space” menjadi tema dalam sesi kedua pertemuan STRIVE ASIA ini. Di sesi kedua ini, Kepala BNPT kemudian mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan paparan mengenai berbagai upaya dan langkah yang telah dilakukan Indonesia dalam penanggulangan terorisme.

Di ranah hukum, Kepala BNPT mengangkat bagaimana Revisi Undang-Undang Pemberantasan Terorisme, dimana pada Undang-Undang Nomor 5 Thun 2018 telah dirancang secara efektif dan turut mengatur tentang pendekatan lunak seperti aspek pencegahan (kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi) dan pelindungan terhadap korban dan aparat penegak hukum, disamping pendekatan keras maupun penegakan hukum dalam penanggulangan terorisme.

Sementara itu, beberapa contoh nyata pendekatan lunak sebagai inisiatif BNPT dalam kontra radikalisasi salah satunya adalah dengan membangun Pusat Media Damai (PMD) serta perekrutan Duta Damai baik dalam lingkup nasional maupun regional (Asia Tenggara). Kedepannya, perekrutan ini akan diperluas di tingkat internasional. Kemudian dalam upaya deradikalisasi luar Lembaga Pemasyarakatan BNPT, dilakukan dengan merangkul mantan napi teroris melalui pendirian dan pemberian dukungan kepada dua pesantren yang dikelola oleh mantan napi teroris di Sei Mencirim, Sumatera Utara, dan Tenggulun – Lamongan, Jawa Timur. Selain itu, BNPT juga telah berinisiatif mempertemukan para mantan napi teroris dengan para korban aksi terorisme dalam “Silaturahmi Kebangsaan”.

Perhatian dunia terhadap isu ekstremisme berbasis kekerasan saat ini mendorong BNPT untuk membuat Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yg Mengarah pada Terorisme, dimana saat ini ijin prakarsa telah diberikan oleh Presiden RI.

Adapun kehadiran Kepala BNPT sebagai pembicara dalam STRIVE ASIA yang merupakan salah satu Side Event di sela-sela Sidang Umum PBB ke-74 ini, merupakan suatu kesempatan yang istimewa mengingat kehadiran Kepala BNPT adalah permintaan langsung dari Badan PBB. Hal ini tidak terlepas dari penilaian baik dari PBB terhadap keberhasilan Indonesia, khususnya BNPT, terkait upaya – upaya pencegahan serta penanggulangan terorisme yang selama ini telah dilakukan.