Jakarta – Bertujuan untuk memperkuat sinergi antara Indonesia dan Australia dalam upaya menanggulangi terorisme, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., menyambut kedatangan perwakilan Duta Besar Kontraterorisme Australia, Paul Foley dan Penasihat Kepala Bagian Politik dan Diplomasi Publik, Brad Armstrong serta perwakilan Kontraterorisme Canberra, Chris Withers, di Gedung Kementerian BUMN, Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat,(15/7).

Pertemuan ini membahas kegiatan-kegiatan antara kedua negara di masa mendatang terkait usaha penanggulangan terorisme. Salah satu kegiatan mendatang adalah perayaan hari jadi hubungan antara Australia dengan Asean dalam bentuk Asean-Australia Summit di tahun depan, dimana salah satu agendanya ialah konferensi kontra terorisme Asean-Australia yang diharapkan dapat menghasilkan MoU antar kedua negara.

Suhardi Alius juga menyampaikan terima kasih atas undangan bagi pemerintah Indonesia untuk menghadiri pameran mengenai upaya Australia terkait Countering Violent Extrimism(CVE) pada bulan Juni lalu. Pada kesempatan tersebut delegasi Indonesia mendapatkan pembelajaran baru dalam menanggulangi CVE. Terkait hal tersebut, Kepala BNPT menanyakan apa yang Australia lakukan terhadap CVE, yang dijawab bahwa fokus Australia ialah pada kota-kota besar dengan populasi tinggi yang multi-etnis, yaitu Victoria (Melbourne) dan New South Wales (Sidney).

Paul Foley melanjutkan, bahwa dalam menangani Counter Violent Extrimism, Australia memberdayakan LSM serta masyarakat sipil dalam upaya memitigasi CVE khususnya pada kedua kota tersebut. Baik Indonesia dan Australia melihat pentingnya program dalam mengatasi CVE untuk dikembangkan dalam menanggulangi terorisme, khususnya bagi wanita yang kerap berperan sebagai teroris. “Di Eropa sendiri, 23% jihadist adalah wanita, jadi wanita, anak-anak dan anak yang lahir dari wanita tersebut perlu diperhatikan,” tukas Suhardi Alius.

Keprihatinan bersama lainnya antara Australia dan Indonesia ialah Foreign Terrorist Fighters(FTF) Returnees, yang membuat Australia berkaca pada pemberontakkan di Marawi, bom di Kampung Melayu dan insiden di Melbourne. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ISIS tidak berhenti meskipun lahan tempat mereka beraktivitas berkurang dan bahwa mereka telah mengalami kekalahan perang di Suriah. Aktivitas-aktivitas FTF hanya berpindah lokasi menuju tempat yang mereka diami sekarang. Selain itu para Foreign Terrorist Fighter berpindah tempat dengan membawa serta anak-anak dan istri, yang juga menjadi perhatian dalam menangani hal tersebut bagi BNPT dan Badan Kontraterorisme Australia. Sekarang ini, BNPT telah memiliki program dalam menghadapi keluarga dari teroris, salah satunya program sekolah wajib belajar bagi anak dari keluarga teroris.

Lebih lanjut, Australia juga meminta dukungan dari BNPT terkait Australia-Indonesia Justice Program(AIJP) fase ke-2. Dari program ini diharapkan terdapat media khusus bagi AIJP, seperti dukungan pemberdayaan FKPT dari Australia.

Terkait program Deradikalisasi, perwakilan Australia juga mempertanyakan tingkat kesuksesan BNPT dalam menjalani program tersebut. “Kami merasa cukup sukses, mengingat yang menjalani program ini berkisar 500 orang, sementara residivis hingga kini hanya berjumlah 3 orang, kami anggap program ini cukup berhasil” ujar Suhardi Alius.

Harapan bagi kedua negara ke depannya adalah sinergi yang baik dalam menanggulangi terorisme, mengingat adanya kesamaan akar masalah, yaitu Foreign Terrorist Fighter Returnees serta keluarga dari FTF tersebut. Perhatian terhadap masalah ini menghasilkan pertemuan selanjutnya yang diinisiasi oleh Kementrian Polhukam khususnya pada wilayah selatan, yang akan dihadiri oleh beberapa negara yaitu Australia, Indonesia, Malaysia, Filipina, Brunei serta New Zealand yang akan digelar di Manado bulan Juli mendatang.