Jakarta – Selama masa menduduki jabatan Kabareskrim Polri hingga menjadi Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. telah mengumpulkan catatan, pemikiran dan langkah-langkah dalam menghadapi isu keamanan dalam bentuk tulisan. Seluruh tulisan tersebut kini tertuang dalam bentuk buku-buku dalam seri Catatan Suhardi Alius.

Berjumlah 4 buah buku, launching serta bedah buku Catatan Suhardi Alius digelar di Auditorium Lemhannas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta pada Kamis (14/2) pagi. Dalam acara tersebut, narasumber yang terlibat dalam bedah buku Kepala BNPT meliputi Guru Bangsa, Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii), Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D, Ak., Ketua Pansus DPR RI RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, H.R. Muhammad Syafi’I, SH, M.Hum, Guru Besar ITB, Prof. Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, MSIE., MSCE, Ketua Pukat UGM, Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M., Direktur Utama MetroTV, Suryopratomo, Narapidana Terorisme Ali Imron dan Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. H. Suhardi Alius, M.H.

Mengawali acara, kegiatan dibuka dengan pidato kunci oleh Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Prof. Dr. Moermahadi Soerja Djanegara, C.A, C.P.A. Dalam pidatonya, Ketua BPK menceritakan sosok Suhardi Alius yang digambarkan sebagai sosok dengan kepemimpinan yang perlu dicontoh.

“Bapak Suhardi Alius ini berbakti kepada orang tuanya, berwawasan luas, humanis namun tegas dan mampu menggandeng lapisan masyarakat. Dia dengan cermat tahu bahwa untuk memperbaiki tubuh Polri dibutuhkan peningkatan kepercayaan dan citra Polisi di tengah masyarakat.Selain itu kunci pencegahan radikal terorisme ialah dengan peningkatan nasionalisme di generasi muda,” ujar Prof. Dr. Moermahadi Soerja Djanegara, C.A, C.P.A..

Dalam sesi bedah buku yang dimoderatori oleh Prita Laura, seluruh narasumber menyampaikan pendapat serta penemuan usai membaca 4 buku tersebut sebelumnya. Ali Imron, seorang napiter yang telah ‘sadar’ sebagai narasumber menyampaikan sosok Suhardi Alius memiliki pendekatan yang ia apresiasi. Pendekatan yang dimaksud ialah pendekatan lunak dan humanis yang digunakan Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius selama menangani permasalahan terorisme.

“Desa kami, Desa Tenggulun itu sarang teroris, karena banyak akar dari aksi pengeboman berasal dari Tenggulun. Tapi Bapak Suhardi ini mau datang ke sarang teroris, bahkan membangun sarana-sarana pendukung dalam upaya deradikalisasi,” ujar Ali Imron.

“Di bawah kepemimpinan Pak Suhardi, telah digelar Silaturahmi Nasional yang mempertemukan mantan teroris dengan para penyintas dan keluarga penyintas. Kami juga dibantu dalam sisi Ekonomi dengan program ‘Pop Warung’,” tambah Ali Imron.

Ditemui usai acara, Buya Syafi’i menyampaikan kepemimpinan Suhardi Alius perlu untuk dikenali oleh khalayak luas khususnya generasi muda. Hal ini dipermudah dengan pengemasan pengalaman dan catatan Suhardi Alius yang telah dibukukan.

“Tidak hanya tokoh nasional namun juga tokoh dunia, Suhardi orangnya cemerlang tapi berhati-hati, gaul, percaya diri dan ini perlu dimanfaatkan oleh bangsa dan negara. Saya dulu sarankan kepada beliau untuk terus menulis, mencatat apa yang dialami, dan sekarang berbuah menjadi buku. Bahwa ada anak bangsa yang berfikir sangat serius, dan berbuat baik untuk bangsa,” ujar Guru Bangsa, Buya Syafi’i.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, Prof. Mohamad Nasir dalam kesempatan berbeda menyampaikan hal yang sama. Sejak Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius menjabat Kepala BNPT, jalinan kerja sama dalam membentuk lingkungan perguruan tinggi yang bebas dari radikalisme telah dibangun.

“Saya dan beliau memiliki concern yang sama yaitu untuk menstabilkan suasana kampus agar menjadi kampus pencipta kemajuan bangsa dan tempat meningkatkan daya saing bangsa. Sejak beliau dilantik tahun 2016 kita telah bekerja sama, dan Alhamdulillah sekarang relatif masalah radikalisme dalam kampus sudah mulai reda meskipun mungkin ada di level ‘tiarap’. Beliau punya gaya kepemimpinan yang bagus sekali, personal dan persuasif, perlu dicontoh,” ujar Prof. Mohamad Nasir.

Berikut gambaran singkat 4 buku ‘Catatan Suhardi Alius’ yang telah diterbitkan dan diperkenalkan pada hari ini:

1. Catatan Suhardi Alius: MENJALIN SINERGI: 14 Bulan sebagai Kabareskrim Polri
Dalam buku ini, Suhardi Alius menceritakan pengalamannya selama menjabat sebagai Kabareskrim Polri. Sebagai Kabareskim, ia membuat beberapa kebijakan dan langkah strategis yang bersifat fundamental dengan tujuan untuk menyempurkan sistem yang telah terbangun di BARESKRIM POLRI. Salah satu hal yang dibahas dalam buku ini adalah jalinan harmoni sinergisitas antara Bareskrim dan KPK saat itu dalam memberantas korupsi, seperti koordinasi program-program dalam upaya pemberantasan korupsi, koordinasi untuk menyamakan target, dan strategi yang diterapkan di KPK dalam penanganan kasus tindak pidana korupsi.

2. Catatan Suhardi Alius: RESONANSI KEBANGSAAN: Membangkitkan Nasionalisme dan Keteladanan
Melalui buku ini, Suhardi Alius mencurahkan pemikiran dan kegelisahannya akan realitas dan peristwa yang terjadi dan menggetarkan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia saat ini. Derasnya arus globalisasi bak mengikis nasionalisme dan nilai budaya bangsa. Krisis ketelandanan dalam etika politik yang menjadi sorotan publik mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang permisif, tidak punya rasa malu, dan berangsur-angsur kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat.

3. Catatan Suhardi Alius: PEMAHAMAN MEMBAWA BENCANA: Bunga Rampai Penanggulangan Terorisme
Buku ini berisi catatan-catatan Suhardi Alius sebagai Kepala BNPT dalam memandang dan menanggulangi terorisme. Terorisme muncul dengan beragam propaganda, manipulasi, bahkan berkedok agama. Satu hal yang menarik dibahas dalam buku ini adalah tentang dilemma kepulangan Foreign Terrorist Fighters (FTF) yang dimulai dari runtuhnya pusat kota ISIS di Mosul dan Raqqa. Data BNPT, lebih dari 500-an milisi ISIS asal Indonesia pulang ke Tanah Air, dan untuk 2017 saja terdapat 160 FTF (WNI yang pulang dari Suriah) yang dijemput petugas dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta dan telah ditangani oleh BNPT.

4. Catatan Suhardi Alius: MEMIMPIN DENGAN HATI: Pengalaman Sebagai Kepala BNPT
Buku ini menceritakan kumpulan pengalaman reflektif Suhari Alius selama memimpin BNPT. Suhardi menceritakan upayanya dalam mengatasi terorisme yang tak hanya menggunakan pendekatan hukum tapi juga melibatkan bahasa hati yang membuahkan kearifan.