Jakarta – Pergeseran pola penyebaran dan infiltrasi paham radikalisme maupun terorisme kini dapat menyerang tiap lapisan masyarakat. Sekarang, tidak hanya generasi muda yang menjadi target baru, akhir-akhir ini muncul tren pelibatan perempuan dan anak dalam terorisme, bahkan keluarga yang terlibat aksi teror di sejumlah Gereja di Surabaya menjadi contoh nyata fenomena ini sehingga diperlukan penguatan mulai dari lingkup keluarga, tidak hanya di institusi pendidikan, dan lingkungan kerja.

Guna memberikan pemahaman secara langsung mengenai cara-cara deteksi dini dan mencegahnya, Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., diundang oleh Pengurus Pusat Bhayangkari menjadi narasumber di seminar bertajuk “Menangkal Bahaya Radikalisme” yang diselenggarakan untuk menyemarakkan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-67. Seminar yang diselenggarakan di Auditorium STIK-PTIK, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/09) pagi ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Bhayangkari, Ny. Tri Tito Karnavian. Selain itu, hadir pula Wakadensus 88, Brigjen. Pol. Martinus Hukom, S.I.K., M.H., yang di tahun 2017 pernah menjabat sebagai Direktur Penegakan Hukum BNPT. Sementara itu, sebagai peserta seminar meliputi Ibu-Ibu Bhayangkari, Polwan, ASN di lingkungan Polri serta pelajar tingkat SMA, SMK dan Madrasah di Jakarta.

Mengawali acara, Ny. Tri Tito Karnavian berpesan bahwa para ibu-ibu di lingkungan Bhayangkari harus menyadari akan bahaya radikalisme dan terorisme, jangan sampai anak-anak mereka tanpa disadari terpapar paham radikalisme negatif.

“Kepada ibu-ibu Bhayangkari, Polwan dan PNS, kita sebagai ibu-ibu, yang mempunyai anak-anak generasi muda, penting juga diketahui bagaimana bahaya radikalisme dan bagaimana cara menjaga keluarga kita dalam paham radikalisme tersebut. Anak-anak kita semua yang merupakan generasi muda calon-calon pemimpin masa depan yang akan membangun indonesia, tentunya harus dibekali untuk tetap menjaga NKRI berdasarkan UUD 1945, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika,” pesan Ketum Bhayangkari.

Kepala BNPT mengawali materi dengan menyampaikan keresahannya akan fenomena radikalisme dan terorisme yang sekarang telah masuk di kalangan generasi muda. Ketergantungan gawai menimbulkan banyaknya narasi intoleransi beredar. Mudahnya masyarakat terpengaruh narasi intoleransi yang menimbulkan perpecahan, menjadi celah masuknya paham radikalisme negatif. Keresahan ini ditambah kondisi sosial dan budaya masyarakat yang merenggang. Telah dilupakan sejarah berdirinya bangsa, padahal karakter bangsa itu harus dibentuk sejak dini, tidak bisa secara tiba-tiba.

“Anak-anak kita menjadi sasaran brainwashing, jika kita membahas radikalisme, kita juga harus bicara kebangsaan. Tapi sekarang kita lengah sebagai bangsa, kita punya rekam jejak sejarah kelam, tapi sekarang setelah reformasi pendidikan Pancasila, moral dan etika malah hilang begitu saja,” ungkap Kepala BNPT.

Pria yang pernah menjabat sebagai Kadivhumas Mabes Polri ini kemudian melanjutkan penjelasan tentang program-program BNPT yang telah dibuat secara strategis dan sesuai sasaran untuk mengatasi permasalahan terorisme dari hulu ke hilir. BNPT telah memetakan seluruh kejadian terorisme dalam dan luar negeri. Akar permasalahan terorisme berbeda di tiap negara, namun lagi-lagi banyak yang melakukan justifikasi sepihak sehingga mengasosiasikan terorisme dengan agama.

“Buktinya pascakejadian teror di Christchurch, Irlandia Utara, atau Texas, Amerika Serikat, saya jadi punya bahan diplomasi kepada dunia, jangan sekali-sekali asosiasikan terorisme dengan agama,” ujar Kepala BNPT secara tegas.

Setelah Kepala BNPT memberikan materi, di sesi berikutnya, Yenny Wahid, aktivis yang menaruh perhatian pada isu pemberdayaan wanita dan toleransi umat beragama, lebih dalam lagi memberikan penjelasan mengenai bagaimana pentingnya peran ibu untuk melindungi keluarganya infiltrasi radikalisme dan terorisme anggota keluarga. Hal ini mengacu pada fenomena perempuan yang jadi target baru paparan paham radikalisme dan terorisme. Yenny Wahid berpendapat bahwa cegah dini dapat dilakukan para ibu di rumah. Kelompok-kelompok radikal mempengaruhi targetnya dengan pandangan yang sangat sederhana atau simplistik, diawali dengan perubahan drastis mulai dari sikap atau perilaku sampai se-sederhana cara berpakaian.

“Ketika ada perubahan yang bergitu drastis terhadap anak kita, dampingi! Jangan dihakimi. Dalam proses di sekolah dan keluarga harus ada proses dialog. Selama ini kita jadi silent majority karena kita merasa tidak ada kepentingan. Kita sehari-hari sudah disibukkan dengan gadget, dengan pekerjaan kita. Silent majority itu adalah mayoritas yang 90% mendukung Pancasila tetapi diam. Sudah saatnya berubah dari silent majority jadi noisy majority, yaitu dari mayoritas yang hanya diam jadi mayoritas yang bersuara dan bergerak. Itu kunci mengatasiya, jika diam, ruang publik kita akan dipenuhi narasi mereka,” ujar Yenny Wahid.

Ketua Panitia HKGB Ke-67, yaitu Ny. Winny Agung Budi Martoyo, di akhir kegiatan menyampaikan harapan agar para peserta dapat menerapkan ilmu yang di dapat hari ini dalam keluarganya masing-masing. “Berbicara mengenai radikalisme, peran keluarga sangat penting dalam mengatasi permaslahan ini. Anak-anak kita adalah penerus bangsa, kita sebagai orang-tua, ibu serta bapaknya adalah yang paling berperan besar. Harapannya, ini bisa diaplikasikan karena kita sebagai istri Polri mendukung apapun kebijakan dari Polri, kami juga merupakan garda tedepan untuk memerangi gerakan anti-radikal tersebut,” ujarnya.

Ditemui usai acara, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., kemudian bepesan agar kewaspadaan akan bahaya radikalisme dan terorisme dapat ditularkan peserta ke lingkup yang lebih besar lagi. “Bahaya radikalisme sudah ada di sekeliling kita, mudah-mudahan ini menjadi kewaspadaan buat seluruh keluarga besar Polri. Khususnya para Ibu-Ibu yang mendidik anak-anaknya. Jangan sampai keluarga besarnya terpapar. Ini masalah ideologi, semuanya bisa terpapar jika tidak siap. Perempuan dan anak-anak saya ingatkan lagi, karena sudah jadi target yang disentuh, oleh karena itu, kewaspadaanlah yang utama,” pesan Kepala BNPT sekaligus menjadi penutup kegiatan kali ini.