Jakarta- Pencegahan aksi teror yang menyebar ketakutan di tengah masyarakat dapat disikapi dengan kekuatan pribadi yang nasionalis. Penguatan nasionalisme masyarakat kini diperlukan untuk menutup gerbang masuk terorisme dan radikalisme.

Dalam upaya penguatan nasionalisme, Kepala BNPT Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. membahas pentingnya resonansi kebangsaan pada jiwa masyarakat. Ditemui sebagai pembicara di Seminar Akademi Jakarta bertajuk “Nasionalisme dan Realitas Kekinian” bertempat di Hotel Gren Alia Cikini, Kamis(24/08/2017) pagi.

Dikatakan oleh Drs. Suhardi Alius, M.H., apresiasi terhadap sejarah terbangunnya bangsa dapat dipelihara dalam bentuk semangat membangun Indonesia yang lebih baik. “Di jaman globalisasi ini, kita harus sadar akan persaingan sektor ekonomi dan teknologi informasi, kita harus terus berinovasi secara kreatif dan kritis,” ujarnya.

Kepala BNPT tak lupa mengingatkan terorisme dan radikalisme sebagai ancaman kesejahteraan bangsa perlu diwaspadai oleh seluruh elemen masyarakat. Dihadapan puluhan mahasiswa dan akademisi, mantan Kepala Divisi Humas Polri tersebut menyampaikan kebutuhan pengetahuan dan nalar yang kuat dalam berselancar di dunia maya.

“Terorisme dan radikalisme masa kini memberdayakan situs online, media sosial dan social messenger. Kita harus paham batas, ini mengancam nasionalisme. Jangan ragu untuk melaporkan apabila menemukan konten radikal atau terorisme di dunia maya,” tegas Kepala BNPT.

Berkaca pada kerja nyata BNPT pada Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, yang kini dikenal sebagai pusat perdamaian, Ketua Akademi Jakarta, Taufik Abdullah menyampaikan apresiasinya kepada BNPT. “Desa yang dulunya terkenal akan terorismenya, kini terkenal akan perdamaiannya, pendekatan dan program yang digunakan BNPT ini sangat baik sekali,” ucap Taufik Abdullah pada sambutannya.