Bogor – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menerima kunjungan dari mahasiswa Universitas Pertamina Jakarta di Ruang Rapat Utama Gedung A BNPT, IPSC Sentul, Bogor pada Senin sore (11/03). Kunjungan ini menjadi salah satu kesempatan BNPT untuk membagi informasi dan menyampaikan pemahaman kepada masyarakat luas mengenai bahaya radikal terorisme.

Sekretaris Utama (Sestama) BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi menyambut baik kedatangan mahasiswa Universitas Pertamina yang terdiri dari puluhan mahasiswa prodi Ilmu Hubungan Internasional beserta dosen pengajar Universitas Pertamina. Turut hadir dalam kegiatan kali ini yaitu jajaran pejabat BNPT yaitu Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi, Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis dan Plt. Deputi Bidang Kerja Sama Internasional, Brigjen TNI (Mar) Yuniar Ludfi.

Sebelum memasuki paparan dari Sestama BNPT, Ketua Program Studi Prodi Ilmu Hubungan internasional Universitas Pertamina, Iqbal Ramadhan, S.IP, M.I.Pol menyampaikan maksud dan tujuan diadakan kunjungan ke BNPT salah satunya adalah untuk berdiskusi serta mengenal lebih jauh mengenai BNPT khususnya perannya dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme.

Dr. A. Adang Supriyadi mengawali pembekalan dengan memberikan penjelasan mengenai struktur dan organisasi BNPT yang di dalamnya diperkuat personel yang berasal dari berbagai latar belakang profesi. Hal ini menjadi salah satu keunggulan BNPT guna memperkuat tugas pokok dan fungsi BNPT menjadi koordinator antar stakeholder, tidak hanya mengenai pemulihan dan pelindungan korban namun juga yang terpenting adalah terkait pencegahan dengan tiga ujung tombaknya yaitu kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi.

BNPT juga menjadi pusat analisis dan pengendalian krisis yang mendeteksi dan menganalisis pertumbuhan radikalisme di seluruh provinsi di Indonesia. Selain itu, peran BNPT tidak hanya memberikan pemahaman mengenai wawasan kebangsaan dan bela negara kepada narapidana terorisme namun juga memberikan pelatihan kemampuan atau skill hingga mereka memiliki kesiapan ketika kembali ke masyarakat.

Selanjutnya, Sestama BNPT memberikan pemahaman kepada peserta yang hadir mengenai bahaya radikalisme dan terorisme mulai dari definisinya sampai aspek-aspek yang mendorong munculnya hal tersebut. Yang perlu diperhatikan lagi adalah mengenai tahapan radikalisasi yang dapat terjadi melalui proses indoktrinasi offline secara langsung maupun online. Aspek terakhir merupakan hal yang paling membahayakan dimana masyarakat dapat terpapar melalui media sosial. Beliau menambahkan pentingnya peran mahasiswa untuk memiliki critical thinking dalam merespon perubahan di sekitar di tengah kemajuan teknologi dan informasi yang dapat menjadi celah infiltrasi paham radikalisme terorisme. Cara berpikir kritis dapat membuat kita terhindar dan tidak terpengaruh narasi-narasi yang sifatnya provokatif atau radikal.

Sestama BNPT lalu menjelaskan mengenai pencapaian yang telah dilakukan BNPT melalui Program Sinergisitas, dimana kerja sama penanggulangan terorisme dilakukan antar 36 Kementerian/Lembaga. Sebagai salah satu program unggulan BNPT, Program Sinergisitas antar 36 K/L meninjau keadaan dan kebutuhan wilayah sasaran langsung di lapangan dengan menggunakan metode pendekatan humanis. Mengenai pendekatan soft power yang dilakukan selama ini, Sestama BNPT menjelaskan lebih lanjut lagi, “Kalau kita selalu mengandalkan hard power seperti law enforcement, tidak akan selesai-selesai permasalahannya. Akan tumbuh dendam dan semakin banyak teroris. Maka kita gunakan soft power approach yaitu pendekatan dari hati ke hati.”