Bogor – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menerima kunjungan para peserta Diklat PIM II Kementerian Dalam Negeri di Ruang Rapat Utama Gedung A BNPT, Sentul, Bogor pada Rabu (20/02). Kunjungan ini dalam rangka kunjungan studi lapangan dalam rangka mengisi kurikulum pendidikan dan pelatihan kepemimpinan tingkat II.

Sestama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, S.T., M.M. menyambut baik kedatangan peserta Diklat PIM II yang dipimpin langsung oleh Kasubbid Kepemimpinan Tk. II dan III, Dr. Tutik Lestari, M.Pd. selaku pimpinan peserta Diklat PIM II.

Kunjungan studi lapangan tersebut di awali dengan pemberian paparan oleh Sestama BNPT. Adapun sebelum memasuki paparan, Dr. Tutik Lestari, M.Pd. menyampaikan kata sambutannya. Menurutnya kunjungan studi lapangan ke kantor Badan Nasional Penanggulangan Terorisme merupakan bentuk perhatian para peserta terhadap salah satu isu pertahanan nasional yakni terorisme.

“Terorisme itu terdengar menakutkan namun sambutan Bapak Sestama cukup meredakan gambaran menakutkan tersebut. Terorisme sebagai salah satu kejahatan luar biasa menjadi perhatian kami agar kami mampu mengenalinya dan bisa ikut peduli atas kejahatan ini, kami mohon informasi dan penerangan dari Bapak Sestama,” ujar Kasubbid Kepemimpinan Tk. II dan III.

Dihadapan puluhan peserta diklat yang tergabung dari berbagai instansi, Sestama BNPT memaparkan tentang tugas dan fungsi BNPT serta peran strategis BNPT dalam mengoordinasikan penyusunan kebijakan, strategi, dan program penanggulangan terorisme. Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi juga menyampaikan definisi terorisme serta identifikasi tingkat radikalisme yang dapat ditemui di lingkungan sekitar.

Terkait dengan UU No. 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Dr. A. Adang Supriyadi menjelaskan akan ada perubahan dan perkembangan akan struktur organisasi BNPT. Salah satunya ialah pengembangan Pusat Pengendalian Krisis atau disebut PUSDALSIS.

“BNPT akan langsung berfungsi di bawah presiden. Pusat pengendalian krisis melibatkan elemen kesiapsiagaan nasional, rapid decision making yang berdasarkan standar prosedur nasional. Kita akan dapat memantau dan melaporkan adanya kejadian aksi teror,” jelas Sestama BNPT.

Dr. A. Adang Supriyadi juga memperkaya para peserta dengan paparan terkait soft skill yang mampu mendukung profesionalisme para peserta. Sementara paparan terkait bahaya dan ancaman radikal terorisme mengisi salah satu Kurikulum Diklat PIM II yaitu Agenda Wawasan Kebangsaan, dimana para peserta menerima informasi radikal terorisme sebagai menjadi isu ketahanan nasional yang dapat dilawan dengan penguatan nasionalisme di berbagai aspek masyarakat.