Jakarta – Upaya penanggulangan terorisme tidak mungkin dapat terlaksana secara maksimal dan menyeluruh jika hanya dibebankan kepada BNPT semata. Diperlukan adanya sinergi yang berkesinambungan Antarkementerian dan Lembaga pemerintah bahkan tiap elemen masyarakat untuk bersatu mewujudkan Indonesia bebas radikalisme maupun terorisme. Kementerian Agama Republik Indonesia merupakan salah satu Kementerian yang telah mendukung BNPT untuk bersama menanggulangi terorisme. Sinergi ini salah satunya dicerminkan melalui partisipasi aktif Kementerian Agama dalam program Sinergisitas Antarkementerian dan Lembaga di tiga wilayah sasaran kegiatan yaitu Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Jawa Timur.

Guna menunjang pelaksanaan kegiatan Sinergisitas K/L yang nantinya diharapkan dapat menyentuh langsung secara tepat bagi para penerima manfaat, perlu adanya persamaan persepsi serta pemahaman yang lebih mendalam lagi terkait upaya bersama menanggulangi terorisme ini. Untuk itu Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi hadir dalam Rapat Rencana Aksi di Lingkungan Kementerian Agama Terkait Program Penanggulangan Terorisme Tahun 2020 di Hotel Borobudur, Jakarta (6/12).

Kehadiran Sestama BNPT menjadi pencerahan khususnya bagi para Pejabat Eselon II di lingkungan Kementerian Agama yang hadir dalam rapat ini. Diharapkan para pejabat yang nantinya akan memetakan strategi perencanaan maupun menetapkan kebijakan yang selaras dengan tusi dan program prioritas masing-masing unit kerja. Program-program tersebut diimbau oleh Sestama BNPT agar dirancang untuk menyentuh langsung para penerima manfaat agar efektif.

Perlu diketahui bahwa selama tahun 2019, sejumlah 23 sasaran kegiatan pelaksanaannya telah diselesaikan secara sempurna oleh Kementerian Agama. Di tahun 2020 mendatang, Kementerian Agama akan terlibat lebih intensif lagi dengan meningkatkan jumlah sasaran kegiatan menjadi 35 kegiatan dalam bentuk dialog kerukunan, maupun kegiatan yang dikembangkan dalam bentuk diklat tentunya yang difokuskan dalam konteks penguatan moderasi beragama.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, M. Nur Kholis Setiawan yang juga hadir untuk memimpin pertemuan kali ini mengungkapkan langkah yang akan dilakukan untuk mendukung terlaksananya program penanggulangan terorisme tahun depan. “Dua langkah yang sejatinya akan kita lakukan yaitu meneruskan dan menyempurnakan agar lebih sophisticated pekerjaan yang sudah kita lakukan sampai tahun 2019 di tiga wilayah utama tadi, tapi pada saat yang bersamaan kita juga akan melakukan mitigasi terhadap wilayah-wilayah lain yang kemungkinan kita bisa melakukan pencegahan dini. Karena jaringan itu kan luar biasa, dampaknya sekarang juga di media sosial terlihat,” ungkap Sekjen Kemenag.

Secara garis besar saat memberikan pemahaman terkait bahaya radikalisme dan terorisme, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi mengungkapkan bahwa terorisme terjadi karena human error, sama sekali tidak ada kaitannya dengan Agama. Banyaknya faktor dibalik terpaparnya individu dengan radikalisme bahkan sampai terjadi tindak pidana terorisme menjadikan permasalahan terorisme sangat kompleks, oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan riset secara mendalam dari hulu ke hilir menggunakan teori ilmiah agar tidak mengandalkan asumsi.

Sestama BNPT kemudian menceritakan perjalanan panjang yang ditempuh untuk merealisasikan Sinergisitas K/L Program Penanggulangan Terorisme dimana Kementerian Agama juga termasuk di dalamnya. Soft approach power atau pendekatan humanis melalui sentuhan fisik seperti perbaikan infrastruktur diiringi dengan pemberian pemahaman tentang ideologi yang benar bertujuan menciptakan kampung madani yang bebas radikalisme maupun terorisme.

“Saya bawa seluruh K/L untuk turun bersama memperbaiki infrastruktur, meskipun pertamanya sangat sulit untuk bisa masuk ketiga wilayah tersebut. Pemimpin-pemimpin di daerah kita ajak diskusi dimana saja yang pelu kita tambah bantuannya untuk di tahun 2020. Harapannya pada tahun 2020 wilayah tersebut bisa mencapai masyarakat madani, tercipta champion-champion dan tokoh-tokoh dari pesantren yang tumbuh sehingga mereka bisa maju,” harap Sestama BNPT saat berbicara terkait tujuan utama Sinergisitas K/L.

M. Nur Kholis Setiawan selaku Sekjen Kemenag diakhir acara mengutarakan bahwa banyak masukan dari Sestama BNPT yang akan menjadi pedoman dalam menentukan program yang dirancang oleh Kementerian Agama dalam Sinergisitas K/L. Utamanya difokuskan pada dimensi pre-emptive sebagai ‘enrichment’ untuk memperkaya program-program yang dilakukan BNPT.

“Kami di Kemenag banyak mendapatkan input yang sangat positif dari Sestama BNPT, tentu wawasan ini menggugah kita agar punya partisipasi disamping kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan selama ini yaitu dengan memberikan langkah antisipatif. Paparan dari Sestama BNPT tadi membuka kesadaran kita bahwa ada bahaya yang begitu nyata dan begitu real di sebagian kelompok masyarakat yang sejatinya terjadi karena faktor-faktor yang landasannya adalah non-agama. Oleh karena itu tentu kita dari Kementerian Agama yang punya fungsi pendidikan dan agama, akan selalu memperkuat pesan-pesan beragama yang moderat atau moderasi beragama,” tutup Sekjen Kemenag.