Jakarta – Menjalankan suatu institusi pemerintah dapat berjalan sangat efektif dan ideal apabila dalam tubuh institusi tersebut terjalin visi kesatuan dan persatuan NKRI dan nilai-nilai perdamaian bangsa. Untuk memastikan hal tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengundang Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi untuk memberikan sosialisasi tentang penanggulangan radikalisme.

Bertempat di Gedung Auditorium BMKG Kemayoran, Jakarta, Sestama BNPT mengisi kegiatan “Sosialisasi Tindakan Preventif dan Penanggulangan Radikalisme dalam Pembinaan Kode Etik Perilaku PNS BMKG” pada Rabu (17/7) pagi. Dihadiri oleh 130 peserta, peserta sosialisasi diikuti oleh jajaran Pimpinan BMKG, PNS serta CPNS BMKG.

Mengawali kegiatan, Plt. Sestama BMKG, Widada Sulistya menyampaikan sambutannya mengenai perlunya pemahaman bahaya radikalisme di tengah jajaran pemerintahan. Hal ini yang mendorong kegiatan sosialisasi untuk mencegah masuknya paham radikalisme di tengah keluarga besar BMKG.

“Kita merasakan penting untuk menyamakan pemahaman tentang apa itu radikalisme dan mengidentifikasi serta memproteksi diri kita dari pengaruh tersebut,” jelas Widada.

Mengawali paparan, Sestama BNPT menjelaskan tugas pokok dan fungsi BNPT secara umum dalam hal penanggulangan terorisme. Lebih lanjut, Dr. A. Adang Supriyadi juga menyampaikan capaian-capaian BNPT yang mencakup di tingkat nasional serta tingkat internasional dalam bidang penanggulangan terorisme.

Mendalami bahaya radikalisme, Sestama BNPT mengingatkan agar tidak menyepelekan potensi terjangkitnya paham radikalisme di dalam instansi pemerintah. Hal ini dikarenakan radikalisme dapat diserap siapa saja. Untuk membekali para peserta, mantan Dosen UNHAN tersebut mengenalkan akar permasalahan, radikalisme serta tanda-tanda pentahapan radikalisasi. Namun demikian Sestama BNPT mengenalkan 4 tanda identifikasi radikal yang bersifat negatif.

“Radikalisme tidak selalu negatif, yang positif adalah dengan terus mengembangkan kemampuan diri, dan berinovasi untuk negeri. Kita hindari radikal yang negatif, yakni anti NKRI, anti Pancasila, intoleransi dan nila-nilai takfiri,” ujar Sestama BNPT.

Usai sosialisasi, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengenalkan Sestama BNPT dengan beberapa fasilitas di BMKG. Fasilitas-fasilitas tersebut meliputi Meteorology Early Warning System (MEWS) dan Tsunami Early Warning System (TEWS) yang merupakan pusat monitoring gejala Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika di seluruh Indonesia. Marsekal Muda TNI A. Adang Supriyadi juga menjajal Simulator Gempa Bumi bersama dengan Kepala BMKG.

Menutup kegiatan, Kepala BMKG menyampaikan apresiasi terhadap sosialisasi yang diberikan Sestama BNPT. Menurutnya hal ini penting sebagai rangkaian awal kerja sama lebih lanjut dengan BNPT untuk mencegah persebaran paham radikalisme di dalam institusi pemerintahan BMKG.

“Kami tidak bisa monitoring terkait radikalisme sehingga perlu kerja sama dengan BNPT. Ini mendesak dan sosialisasi ini menjadi inisiasi awal kerja sama agar dapat mencegah radikalisme di tengah BMKG. Tindak lanjutnya diharapkan dapat terjalin kerja sama, karena armada kami yang 70% milenial sekaligus menjadi generasi sasaran radikalisme. BMKG juga memiliki sekolah tinggi MKG yang menerima lulusan SMA. Diperlukan tameng NKRI yang lebih tangguh agar tetap setia dengan NKRI dan menjalankan tugasnya,” jelas Dwikorita.