Semarang – Setelah memberikan kuliah umum di Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi Rabu lalu, Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi, kembali diundang sebagai pengisi materi Studium Generale atau kuliah umum, kali ini di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang. Acara yang diselenggarakan di Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo pada Jum’at pagi (30/08) ini, merupakan kali kedua Sestama BNPT hadir di UIN Walisongo. Sebelumnya, Sestama BNPT pernah memberikan keynote speech pada Sidang Senat Terbuka UIN Walisongo dalam rangka pengukuhan Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag. sebagai Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Kegiatan kuliah umum pagi ini dibuka oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag., dilanjutkan oleh kata pengantar dari Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag., yang berkesempatan untuk menjadi moderator. Dijelaskan selayang pandang tentang latar belakang urgensi UIN Walisongo menghadirkan tema tersebut di hadapan kurang lebih 2.000 mahasiswa baru.

“Tema dalam diskursus kali ini sangat menarik, mengenai infiltrasi jaringan radikalisme-terorisme, dan bagaimana sejarahnya. Sekarang ini terjadi semacam pergeseran pola radikalisme. Sekitar tahun 2002, polanya masih nampak tradisionalis, nampak jelas siapa kelompok dan pemimpin dan pembai’atnya, contohnya JI dan Al-Qaeda. Munculnya kejadian teror seperti Bom Bali 1 dan 2, ternyata faktor dominannya adalah kebencian terhadap barat,” ujar Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag.

Dilanjutkan Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag., bahwa dengan adanya pergeseran pola radikalisme dan terorisme sekarang harus menjadi sebuah kesadaran bersama agar memiliki daya tangkal atau imun terhadap infiltrasi paham negatif tersebut.

“Sekarang perubahannya masif dari tradisional ke modern yang sophisticated. Dulu kelihatan jelas, sekarang unpredictable, tidak jelas. Pola gerak jaringan ini disebut phantom terrorism networking. Hal ini sudah memasuki pusaran publik, termasuk di lembaga-lembaga, bahkan di rumah ibadah maupun perguruan tinggi umum, karena imun tangkal terorisme-nya sangat minim. Ada sebuah kesadaran perlu adanya sosialisasi mengerti apa sebenarnya radikalisme dan terorisme serta apa tipikalnya, bagaimana kita punya daya tangkal atau imun dari radikal terorisme,” lanjutnya.

Pemahaman mengenai definisi radikalisme dan terorisme diberikan oleh Sestama BNPT di awal pemberian materi. Selanjutnya, lebih jauh para peserta diajak untuk mengenal indikasi-indikasi individu maupun kelompok yang rentan terpapar radikalisme. Melalui studi kasus dan contoh-contoh nyata dampak paham radikalisme dan terorisme, para peserta diharapkan dapat tergugah untuk langsung tanggap mengambil langkah mengantisipasinya. Dampak signifikan radikalisme ini dapat ditelusuri jejak asal-muasalnya terjadi meskipun akar permasalahannya kompleks dan tidak homogen.

“Dari dimensi nasional mengapa terorisme bisa terjadi, termasuk salah tafsir ajaran agama, balas dendam, psikologi, kemiskinan, ketidakadilan, pendidikan dan politis,” ujar Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi ketika menjelaskan tentang faktor-faktor pendorong awal munculnya radikalisme dan terorisme.

Menanggapi paparan dari Sestama BNPT, Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag., menjelaskan bahwa memantik kesadaran masyarakat diperlukan kearifan lokal berbasis riset sebagai alternatif pendekatan. Sama halnya dengan pendekatan nirkekerasan yang selalu dterapkan oleh BNPT. “Salah satunya adalah dengan memberikan sebuah kesadaran, local genius, yang based on research. Dengan kemampuan-kemampuan alamiah, justru dapat melenturkan cara pandang. Batu tidak boleh dibalas dengan batu, tetapi dengan air. Local wisdom memberikan sebuah alternatif karakter dengan sangat lembut, inilah yang disebut dengan soft power approach, yang sangat sinergis dengan pendekatan dari BNPT. Makanya sosialisasi ini penting untuk memberikan semacam cara pandang, atau local wisdom-recognised pada masyarakat dan anak didik kita. Mahasiswa menjadi ujung tombak dari itu semua,” lengkap Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag.

Di akhir kegiatan, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag., mengungkapkan bahwa sebagai universitas Islam riset yang terdepan, berbasis kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban, UIN Walisongo menilai bahwa pemerintah perlu mengembangkan pusat studi kajian toleransi dan anti terorisme yang mampu menjadi rujukan utama akademisi dunia internasional. “Kedepannya mungkin perlu dikembangkan menjadi bagian penting dari kurikulum akademis kita. Terutama toleransi umat beragama dan anti-terorisme. Bahkan bisa dikembangkan lagi jadi pusat studi terorisme yang bisa jadi rujukan bagi kajian-kajian ilmiah tentang terorisme dunia,” lanjut Dr. H. M. Mukhsin Jamil, M.Ag.

Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi selanjutnya menutup kegiatan dengan menyampaikan harapan-harapan bagi para mahasiswa baru UIN Walisongo setelah menyampaikan paparan. “Tadi sudah sampaikan dengan jelas konsep-konsep radikalisme dan contoh-contohnya menggunakan teori dan riset BNPT, supaya mereka betul-betul jelas mendapatkan informasi. Saya ingin mahasiswa UIN Walisongo punya karakter yang baik jangan sampai terpengaruh. Saya yakin tinggal kedepannya 4-5 tahun kedepan mereka pasti akan berhasil.” harap Sestama BNPT saat menutup