Bogor – Sempat beredar isu sebagai perguruan tinggi yang terpapar radikalisme, Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. kembali memberikan paparan di hadapan 3.107 mahasiswa baru, dalam kegiatan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat.

Bertempat di Lapangan Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) TNI AD, Lawang Gintung, Bogor, Jawa Barat, didampingi Rektor Universitas Pakuan Bogor, Prof. Dr. H. Bibin Rubini, M.Pd. dan jajaran petinggi pimpinan Universitas Pakuan Bogor, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. mengisi kegiatan PPBN sebagai narasumber dengan topik “Gerakan Anti Radikalisme”.

Sebelum memulai pemaparan terkait radikalisme dan terorisme, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. menjelaskan terlebih dahulu pemahaman terkait kebangsaan. Dari gambaran peristiwa di Indonesia beberapa waktu belakangan seperti situasi Papua saat ini, bagi generasi milenial banyak yang mudah terprovokasi dengan isu-isu perpecahan di sosial media. Saat ini, banyak masyarakat yang melupakan sejarah dan pondasi kekuatan pemersatu bangsa. Kelengahan ini dapat dimanfaatkan kelompok penyebar paham radikal untuk mengubah ideologi negara melalui anak muda, tak terkecuali kalangan Mahasiswa.

Menurut Kepala BNPT, pondasi terpenting persatuan masyarakat Indonesia saat ini harus dikuatkan melalui rasa kebangsaan mereka. Terlebih saat ini, marak perpecahan di tengah-tengah masyarakat karena kecanggihan teknologi, melalui sosial media yang dapat menimbulkan perpecahan.

Dalam memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa baru Universitas Pakuan Bogor terkait terorisme dan radikalisme di Indonesia, Kepala BNPT mengatakan dibutuhkan dua pendekatan yakni soft approach (pendekatan lunak) dan hard approach (pendekatan keras) untuk mencegah dan menanggulangi terorisme.

Salah satu bentuk pendekatan yang ditunjukkan kepada peserta yakni berupa video pembangunan dan peresmian Mesjid Baitul Muttaqien dan TPA di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur yang merupakan kampung halaman terpidana mati kasus Bom Bali, Amrozi. Di sana, BNPT berhasil melakukan pendekatan dan pembinaan dengan para mantan terorisme dan membuat mereka kembali cinta NKRI. Dan pendekatan seperti ini menarik perhatian Perdana Menteri Belanda untuk mencontoh metode pendekatan ini.

“Pak Hardi, ini saya bawa ke parlemen Belanda dan saya tidak pernah berpikir bisa berjajar dengan para mantan teroris dan bisa menjadi contoh bagaimana soft power itu kita terapkan bukan dengan hard power terus menerus. Hard power cuma akan menimbulkan kebencian baru adik-adik sekalian, hard power kita gunakan sebagai langkah terakhir. Hanya akan menimbulkan kebencian baru kepada aparat, kepada pemerintah, padahal kita tidak pernah menstigmakan agama,” ungkap mantan Kapolda Jawa Barat saat menceritakan momen kegiatan tahun 2017 lalu.

Saat ini permasalahan nasional sudah tidak mengenal batas. Tidak bisa dibagi masalah nasional atau regional, karena saat ini semua bisa terdampak di mana hanya dalam hitungan detik suatu kejadian bisa merusak kebhinnekaan. Oleh karena itu, kehadiran Kepala BNPT di tengah-tengah mahasiswa baru, diharapkan bisa meningkatkan rasa nasionalisme mereka. Demikian yang disampaikan Rektor Universitas Pakuan Bogor, Prof. Dr. H. Bibin Rubini, M.Pd.

“Kami merasa bangga atas kehadiran Bapak Kepala BNPT karena itu pengetahuan yang dipaparkan oleh Pak Komjen Suhardi ini luar biasa bagi kami, bukan hanya untuk mahasiswa tetapi untuk kami juga para dosen. Kami diberikan pengetahuan yang sangat luar biasa dengan pendekatan-pendekatan untuk mencegah adanya radikalisme atau intoleransi di kampus ini. Karena berbagai multi etnis, multi agama, dan multi culture, itulah yang harus kita bangun, agar mereka lebih mencintai negara kesatuan republik indonesia ini,” ujar Prof. Dr. H. Bibin Rubini, M.Pd.

Tak hanya itu, kedepannya Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. menekankan agar perguruan tinggi dan para rektor mengedepankan kurikulum berbasis kebangsaan dan nasionalisme di setiap pelajaran. Tak lain hal ini guna membangun karakter bela negara mahasiswa dalam perkuliahan sehari-hari.

“Iya dalam hal itu juga tadi Pak Rektor sudah bilang bahwa akan ada pendidikan karakter lagi di tingkat perguruan tinggi dengan dimensi yang lain tapi dengan pendidikan bela negara bagaimana karakter itu bisa menjadi jati diri bangsa di lingkungan universitas,” ujar Kepala BNPT.

Di akhir kuliah umum, para peserta mengapresiasi kinerja BNPT dan pemaparan yang telah diberikan oleh Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. dengan tepuk tangan dari seluruh peserta, dan pemberian cendera mata dari pihak rektorat Universitas Pakuan Bogor.

Salah satu peserta, Marisa dari Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen, mengatakan bahwa dari hasil pemaparan Kepala BNPT ia mendapatkan pelajaran yang banyak sekali, terutama bagi dirinya sebagai mahasiswa baru.

“Saya dapat mengambil pelajaran banyak sekali, Pertama, ketika kita menyelesaikan masalah kita tidak boleh langsung menggunakan kekerasan tetapi bisa secara halus yaitu dari hati ke hati, Kedua sebagai anak muda dekat dengan internet harus lebih waspada karena banyak sekali oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab yang menyebarkan berita yang memancing keributan yang mana menjadikan itu secara tidak langsung menjadi suatu tindakan terorisme kepada diri kita sendiri,” ujar Marisa.