Jakarta – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) merupakan lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK) yang menyelenggarakan pengkajian, pendidikan, dan pemantapan terhadap pimpinan tingkat nasional. Dalam hal ini, krusial bagi para lulusan Lemhannas memahami bahaya radikal terorisme yang menjadi ancaman ketahanan nasional. Untuk itu, Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI DR. A. Adang Supriyadi mewakili Kepala BNPT memberikan ceramah kepada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LIX Tahun 2019 Lemhannas RI.

Bertempat di Ruang NKRI, Gedung Panca Gatra Kompleks Lemhannas RI, ceramah diberikan pada Senin (18/03) pagi. Ceramah yang diberikan bermuatan sosialisasi terkait kewaspadaan nasional dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme global. Adapun peserta PPRA LIX Tahun 2019 Lemhannas RI sebanyak 100 orang terdiri dari TNI, Polri, Kementerian, Lembaga Pemerintahan Non Kementerian, Kopertis, Kadin Indonesia, dan Organisasi Masyarakat.

Mengawali ceramahnya, Sestama BNPT memperkenalkan tugas, fungsi serta struktur organisasi BNPT. Mantan Dosen Fakultas Teknologi Unhan tersebut juga menjelaskan pendekatan yang digunakan BNPT yang meliputi pendekatan lunak dan pendekatan keras, serta menjelaskan program-program dari unit kerja di BNPT.

Mendalami sosialisasi, Sestama BNPT menjelaskan identifikasi teroris berdasarkan kategorisasi serta dinamika pola terorisme di Indonesia. Disampaikan dalam ceramah, keadaan radikal terorisme di Indonesia saat ini menjadi ancaman yang perlu diwaspadai perkembangannya. Hal ini tertuang dalam hasil-hasil survei yang dipaparkan.

“Fenomena radikal terorisme yang terjadi di Indonesia merupakan salah satu ancaman nyata yang dapat menginfiltrasi siapapun, tidak memandang apapun itu latar belakangnya, dan dapat terjadi di lingkungan manapun, infiltrasi bisa terjadi di lingkungan pendidikan, keluarga bahkan di lingkungan pemerintah. Ini jangan dipandang sebelah mata,” ujar Sestama BNPT.

Lebih lanjut, kejahatan terorisme yang tidak mengenal batas membutuhkan kewaspadaan dan kerja sama dari seluruh pihak. Hal inilah yang mencetuskan program Sinergisitas Antar K/L BNPT. Program Sinergisitas yang dinilai berhasil, disampaikan kepada para peserta sebagai bentuk kontribusi berbagai Kementerian/Lembaga terhadap upaya penanggulangan terorisme.

“Radikal terorisme membutuhkan kerja sama yang menyeluruh yang membutuhkan perhatian pemerintah. Kita menyentuh langsung ke daerah-daerah, memberikan bantuan dari K/L dan pemda terkait. Ini juga menunjukkan eksistensi pemerintah di tengah masyarakat,” ujar Sestama BNPT.

Kuliah umum diakhiri dengan sesi tanya jawab serta penyampain saran dan masukan. Antusiasme dan partisipasi ditunjukkan para peserta melalui sesi tanya jawab yang aktif berjalan.