Bogor – Sebagai rangkaian kegiatan pembekalan kader intelektual bela negara, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menerima kunjungan mahasiswa baru Universitas Pertahanan (Unhan) Tahun Akademik 2019/2020 pada Jumat (30/8).

Kepala Subdirektorat Bina Dalam Lembaga Pemasyarakatan, Sigit Karyadi, S.H., menyambut kedatangan 274 mahasiswa baru S-2 Unhan dari empat fakultas. Kunjungan hari ini menjadi kunjungan dengan peserta terbanyak yang pernah diterima oleh BNPT.

Agenda kunjungan mahasiswa Unhan yakni pemaparan materi oleh Kepala Subdirektorat Bina Dalam Lembaga Pemasyarakatan, dan sesi tanya jawab interaktif. Sebelum memulai materi, Kolonel (Lek) Rayanda Barnas, M.Si (Han) selaku koordinator matrikulasi orientasi mahasiswa baru Unhan mengapresiasi sambutan dan kesediaan BNPT dalam fasilitasi kunjungan ini.

“Kita berharap kunjungan ke BNPT hari ini menjadikan seluruh mahasiswa Unhan agen perubahan,” ujar Kolonel Barnas.

Sebelum memulai materi, Sigit Karyadi mengenalkan BNPT sebagai koordinator dalam rangka pencegahan, perlindungan, dan deradikalisasi. BNPT juga melakukan kerja sama dengan negara dan organisasi internasional mengingat terorisme merupakan kejahatan
serius yang tidak dapat ditangani sendiri. Dibutuhkan sinergi dan dukungan K/L di Indonesia dan juga entitas internasional dalam rangka penanggulangan terorisme.

Dalam paparan materi, narasumber memperkenalkan pola radikalisasi baru di dunia maya kepada seluruh peserta. Kemajuan teknologi yang begitu pesat di zaman ini dimanfaatkan oleh kelompok teroris dalam melancarkan aksinya. Tidak hanya melakukan propaganda dan pengumpulan informasi, kelompok ini juga melakukan perekrutan dan pendanaan melalui internet.

Sigit Karyadi memberikan pengertian kepada mahasiswa baru Unhan untuk menjadi insan yang kritis dalam bersosial media. Tidak menutup kemungkinan indoktrinasi paham radikal terorisme terjadi di kalangan intelektual. Lebih lanjut, mahasiswa diminta untuk peka terhadap narasi yang bersifat intoleran dan provokatif.

“Di Unhan ini terdiri dari defense science yang di dalamnya terdapat ilmu yang ada kaitannya dengan assymetric warfare, dan lain sebagainya sehingga kami butuh informasi yang lebih mendalam pada saat mahasiswa mengikuti perkuliahan, perlu adanya ilmu-ilmu yang sifatnya universal dan komprehensif,” ungkap Kolonel Lek Rayanda Barnas selepas pembekalan.