Batam – Penyebaran radikalisme dan terorisme masa kini umumnya masif tersebar secara tidak langsung melalui dunia maya. Namun begitu ancaman infiltrasi tetap berpotensi terjadi secara langsung yang dapat terjadi di daerah yang rawan secara geografis. Terkait hal tersebut, Kepala BNPT memberikan pengarahan kepada jajaran personel Polda terkait Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme.

Bertempat di Graha Lencak Kuning, Mapolda Kepri pada Kamis(22/2) pagi, pengarahan tersebut dihadiri ratusan jajaran personel Polda Kepri. Jajaran yang menghadiri terdiri dari Kapolda dan Wakapolda Kepri, Irwasda dan PJU, Kapolresta, Kasat, Kabagops, Kapolsek Resor Barelang, Bintan, TPI, Karimun, Anambas, Lingga dan Natuna, Kasubdit dan Kasubbid Polda Kepri, Kabag Polda Kepri dan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Batam.

Pengarahan diawali dengan kata-kata sambutan dari Kapolda Kepri Irjen. Pol. Drs. Didid Widjanardi. Dirinya berterimakasih atas kesempatan menerima pengarahan mengenai penanggulangan radikalisme. Menurutnya pengarahan tentang Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme diperlukan terkait dengan kondisi geografis Kepulauan Riau yang potensial untuk persebaran radikalisme dan terorisme.

“Polisi Daerah (Polda) Kepuauan Riau memiliki tanggung jawab atas wilayah hukum yang terdiri dari 96% wilayah perairan dan 4% wilayah darat, dimanba beberapa pulau diantaranya berbatasan langsung dengan negara lain. Secara geografis, hal ini dapat meningkatkan potensi dan kerawanan terhadap infiltrasi radikalisme dan aksi terorisme di wilayah,” ujar Irjen. Pol. Didid Widjanardi.

Dalam pengarahannya, Kepala BNPT mengangkat tema resonansi kebangsaan dan bahaya serta pencegahan radikalisme. Penguatan moral yang bermuatan nilai-nilai kebangsaan dan persatuan menurutnya adalah salah satu bentuk pertahanan bangsa dari radikalisme dan terorisme.

“Kita perlu menyadari bahwa nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat sudah tereduksi, sebagai Polisi kita perlu menjaga integritas diri dan mengayomi masyarakat akan nilai kebangsaan. Keutuhan Indonesia bisa terancam dengan infiltrasi dan ujaran kebencian, kalau nilai kebangsaan kita kuat, kita dapat menjaga kesatuan dan persatuan bangsa,” tutur Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

Lebih lanjut, mantan Kapolda Jawa Barat tersebut membahas kondisi geografis Kepulauan Riau yang strategis untuk pesebaran ideologi menyimpang. Kepala BNPT mengajak seluruh personel Polda Kepri untuk lebih meningkatkan pengawasan dan mampu membangun wawasan kebangsaan pada diri dan masyarakat.

“Melawan gelombang infiltrasi ideologi tersebut memerlukan personel yang kuat secara moral. Diharapkan kalian dapat menjadi agen pencegah terorisme yang peka terhadap perubahan, memiliki daya analisis yang kuat, cepat tanggap dalam merespon dan mengklarifikasi isu yang diiringi dengan naluri kebangsaan. Dimensi geografis yang perlu diwaspadai ialah isu perbatasan yang dapat menjadi pintu masuk radikalisme dan terorisme,” tegas Suhardi.

Mantan Kadiv Humas Polri tersebut juga mengingatkan akan bahaya radikalisasi di dunia maya yang juga masif digencarkan oleh kelompok radikal. Mengingat terorisme aliran baru kini berpindah ke dunia maya, hal ini dinilai sama bahayanya.

“Polisi harus pandai dalam melakukan identifikasi isu-isu lingkungan strategis berskala nasional, Provinsi Kepri harus waspada akan infiltrasi langsung dan tidak langsung (dunia maya), mengingat keduanya sama berpengaruh dan sama ancamannya,” tutur Suhardi.

Di penghujung pengarahan, Kepala BNPT mengingatkan hadirin untuk terus bekerja dengan ikhlas, menggunakan moral dan hati nurani. Pengarahan ditutup dengan sesi pemberian cinderamata antara kedua belah pihak dan sesi foto bersama.