Banda Aceh – Menyampaikan bahaya ancaman radikal terorisme yang melanda NKRI sebagai bekal masyarakat dalam menghadapi isu tersebut menjadi kepentingan tersendiri bagi BNPT. Sosialisasi perlu terus disampaikan agar tercipta masyarakat – khususnya generasi muda – yang mampu mengenali dan mencegah infiltrasi radikal terorisme. Menyambangi Provinsi Aceh, Kepala BNPT memberikan kuliah umum di Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.

Bertempat di Academy Activity Center Dayan Dawood, Kampus Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh,kuliah umum untuk 1500 mahasiswa dan civitas akademi Unsyiah pada Kamis (31/10) pagi. Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. selaku narasumber disambut oleh Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. dan Wakapolda Aceh, Brigjen Pol. Drs. Supriyanto Tarah, M.M.

Mengawali kuliah umum dengan lantunan Shalawat Badar dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Rektor Universitas Syiah Kuala memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Rektor Unsyiah menjelaskan sebagian sejarah berdirinya Unsyiah serta situasi komposisi mahasiswa saat ini.

“Sebelumnya kami sangat apresiasi Kepala BNPT yang menyempatkan hadir di tengah kesibukannya memberikan pencerahan kepada kita semua. Unsyiah sebagai universitas Jantung Hati Rakyat Aceh, saat ini kami memiliki lebih banyak mahasiswi daripada mahasiswa, menjelang wisuda ini, 80% Cum Laude nya perempuan,” tutur Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal.

Dalam Kuliah Umum, Mantan Sestama Lemhannas tersebut mengingatkan para mahasiswa akan Sumpah Pemuda dan peran Provinsi Aceh pada masa-masa kemerdekaan. Kontribusi yang diberikan Aceh saat itu diharapkan dapat terus mengalir dalam generasi muda Serambi Mekkah.

Menghadapi isu radikal terorisme dan intoleransi, Kepala BNPT menyampaikan saat ini Indonesia harus waspada dan tidak menganggap enteng isu ini. Hal ini disampaikan sebagai bencana kebangsaan yang dapat melanda siapa saja tak terkecuali mahasiswa.

“Bencana kebangsaan itu manakala yang buruk lebih banyak muncul daripada yang baik-baik. Kita sedang menghadapi dinamika perkembangan zaman yang luar biasa. Sebagai generasi penerus bangsa harus mampu akselerasi kemajuan zaman, dan ancaman yang terkandung di dalamnya,” ujar Kepala BNPT.

“Karena apa? Karena sekarang ‘dunia dalam genggaman’ bisa menjadi bumerang. Aksi teror dan radikalisme bisa dari mana saja, apalagi dari dunia maya. Bekali diri dengan sense of crisis, kuatkan naluri kebangsaan kita. Kalau bertemu konten tendensi memecah belah kita saring sebelum sharing,” tegas Suhardi Alius.

Kuliah umum yang diakhiri dengan sesi tanya jawab tersebut antusias diikuti mahasiswa. Beberapa di antaranya menyampaikan cara melaporkan apabila menemukan indikasi radikalisme hingga kesediaan menjadi sukarelawan membantu menangkal radikal terorisme. Usai sesi tanya jawab, Kepala BNPT dengan Rektor Unsyiah saling bertukar cinderamata dan berfoto bersama dengan ribuan mahasiswa.

Rektor Unsyiah menyampaikan harapan dari Kuliah Umum Kepala BNPT dapat membekali mahasiswa sebagai ujung tombak melawan intoleransi dan radikalisme. Menurutnya pemaparan yang diberikan dapat membangkitkan kebangsaan para generasi muda Unsyiah.

“Harapannya menjadi ujung tombak melawan sifat intoleransi radikalisme dan sebagainya, bahkan separatisme juga. Ini penting agar mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa ke depannya dapat terus mempersatukan bangsa,” Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal.

Mengharapkan hal yang sama, Kepala BNPT juga berharap generasi muda Aceh dapat menjadi pemuda yang lebih sadar dengan situasi dan kondisi di masa kini dan mendatang. Utamanya dari marabahaya radikal terorisme, setidaknya para mahasiswa dapat membekali diri. Hal ini dilatarbelakangi perjuangan pemuda-pemudi Aceh dalam Sejarah Indonesia.

“Tunjukkan kembali kontribusi rakyat Aceh, ingat sejarah dan kejayaan Aceh yang berkontribusi mengantarkan Indonesia hingga Kemerdekaan, ingat itu dalam konteks kesatuan Indonesia,” tutup Kepala BNPT.