Jakarta – Lunturnya rasa nasionalisme di tengah perkembangan teknologi saat ini dapat menjadi celah masuknya paham radikal terorisme di masyarakat. Permasalahan bangsa ini direspon oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dengan menggandeng sejumlah K/L dalam rangka penanggulangan terorisme yang lebih komprehensif. Kali ini BNPT menjalin kerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam rangka pembinaan Ideologi Pancasila bagi masyarakat.

Kerja sama yang tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani langsung oleh Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. dan Plt. Kepala BPIP, Hariyono pada Jumat siang (1/11). Bertempat di salah satu gedung kementerian di bilangan Jakarta Pusat, prosesi penandatanganan disaksikan oleh jajaran pejabat di lingkungan BNPT dan BPIP.

Selain menyelenggarakan pembinaan Ideologi Pancasila, hal lain yang menjadi ruang lingkup kerja sama antar kedua instansi yakni melakukan program konseling bagi pelaku tindak pidana terorisme, menyusun kontra narasi, kontra propaganda, dan kontra ideologi, serta koordinasi dalam identifikasi potensi radikalisme melalui hasil kegiatan pengendalian dan evaluasi pembinaan Ideologi Pancasila.

Dalam sambutannya, Kepala BNPT menyayangkan saat ini Pancasila perlahan ditinggalkan digantikan oleh paham-paham radikal terorisme dan intoleransi. Hal ini dipengaruhi, salah satunya oleh perkembangan teknologi yang tidak dapat ditolak. Menghadapi fenomena yang terjadi, BNPT dan BPIP perlu menggunakan materi dan metode yang tepat dalam rangka menguatkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila agar paham radikal terorisme dan intoleransi di masyarakat dapat terus tereduksi.

Plt. Kepala BPIP, Hariyono menjelaskan bahwa Pancasila merupakan Ideologi yang mendorong masyarakat untuk berfikir merdeka, merdeka dari paham radikal terorisme. Dengan adanya kerja sama antar instansi, Pancasila dapat dijalankan secara kontesktual. Lebih lanjut, Hariyono menyampaikan perlu adanya kolaborasi Pusat Studi Pancasila (PSP) dan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan dan sekaligus membekali tenaga pengajar mengenai ancaman radikal terorisme.

Ditemui usai acara, Kepala BNPT menyampaikan harapannya agar kerja sama yang terjalin dengan BPIP dapat membawa manfaat yang besar untuk menanamkan Pancasila dalam menghadapi perkembangan jaman.

“Sekarang kita bekerjasama dengan BPIP bagaimana mengemas metodenya, bagaimana Pancasila itu betul-betul menjadi masuk ke hati dengan baik oleh semua anak bangsa, kalau tidak kita tidak akan mampu menghadapi dinamika global apalagi di era transformasi digital semacam ini. Mudah-mudahan kerja sama ini menjadi lebih tajam lagi sesuai dengan yang kita harapkan,” ucap Kepala BNPT.