Manado – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Subdit Pengamanan Lingkungan, Direktorat Perlindungan, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi melakukan kunjungan ke Manado dalam rangka kegiatan Monitoring dan Evaluasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Aksi Terorisme di Satuan Pendidikan Kerja Sama di Manado Independent School pada Kamis (19/9). Program ini bertujuan untuk mempersiapkan pengamanan di Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) dalam menghadapi ancaman terorisme. Selain melihat sisi keamanan sekolah, Subdit Pengamanan Lingkungan BNPT juga memberikan edukasi kepada pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Manado Independent School serta tenaga pengamanan terkait bahaya paham radikal terorisme.

Kegiatan ini turut mengundang Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT, Kolonel Rahmad Suhendro, Akademisi Universitas Indonesia, Dr. Kemal Dermawan, Pengurus Persatuan Sekolah SPK Indonesia, Etika Hia, serta Billy Komolontang selaku Direktur Manado Independent School.

Ancaman paham terorisme saat ini tidak hanya menyasar institusi pemerintah saja, namun juga institusi pendidikan. Ancaman dan paham terorisme dapat mengakar mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Universitas. “Aksi terorisme semakin gencar untuk menunjukkan aksinya, dan tidak lagi memilih tempat simbolis namun juga lingkungan sekolah,” ungkap Rahmad Suhendro.

Di saat yang sama, Rahmad Suhendro menyatakan bahwa paham radikal terorisme dapat menyusup ke kalangan pelajar melalui media sosial. “Pendidikan sasaran yang tepat bagi terorisme untuk masuk karena orang-orang yang berpendidikan dapat disusupi dan sebagai orang-orang yang nantinya akan memikul beban kemajuan bangsa menjadi maju.”

Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT pun mengingatkan pentingnya sosialisasi bahaya paham radikal terorisme untuk mencegah dan pengenalan sejak dini kepada para pelajar yang merupakan generasi penerus bangsa.

Lebih lanjut, Dr. Kemal Dermawan dalam sesi paparannya menjelaskan bahwa tidak jarang paham radikal terorisme menginfiltrasi kaum terpelajar. “Terorisme melakukan pekerjaannya dengan rahasia. Penyusupan-penyusupan dilakukan secara rapih dan menyentuh orang-orang berpendidikan agar dapat dipengaruhi,” ucap Dr. Kemal Dermawan selaku narasumber dalam kegiatan tersebut.

Oleh karena itu menurutnya, peran guru dan pengurus sekolah sangat penting dalam pencegahan penyebaran paham radikal terorisme yakni dengan menjalankan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan dan Agama. Siswa diharapkan peduli kepada lingkungan sekitar serta menumbuhkan sikap toleransi kepada sesama.

Direktur Manado Independent School, Billy Komolontang, menyambut dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh BNPT. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan informasi tentang radikalisme dan terorisme serta memberikan wawasan kepada anak-anak agar anak-anak dapat memperhatikan lingkungan dan tidak masa bodoh.”

Langkah pencegahan penyebaran perlu dilakukan oleh institusi pendidikan agar seluruh pelajar resisten terhadap paham radikal terorisme. Hal ini menjadi kewajiban bersama untuk penanggulangan terorisme demi masa depan Indonesia yang lebih baik.