Jakarta – Kepala BNPT, Komjen. Pol. Suhardi Alius, MH., menerima kunjungan Direktur Utama Televisi Republik Indonesia (TVRI), Helmi Yahya, pada Kamis (24/09) pagi di salah satu Gedung Kementerian di daerah Jakarta Pusat. Tujuan diadakannya pertemuan siang hari ini adalah untuk membuka peluang kerja sama antar BNPT dengan TVRI khususnya terkait diseminasi informasi kepada publik terkait bahaya radikalisme dan terorisme.

Perbincangan hangat antar keduanya tidak hanya meliputi pembahasan seputar bagaimana selama ini TVRI telah berperan dalam membantu menyebarkan pesan damai dan positif kepada masyarakat, namun juga mengenai perkembangan industri pertelevisian di tanah air. Akhir-akhir ini, rujukan kebanyakan masyarakat dalam memperoleh informasi bukan lagi media-media arus utama seperti televisi atau radio melainkan dari internet dan media sosial.

Fenomena ini menjadi kekhawatiran nyata yang harus di antisipasi tiap pihak karena di dunia maya banyak beredar informasi yang bermuatan hoaks dan ujaran kebencian yang bisa memantik api intoleransi. Untuk itu, Kepala BNPT mendorong TVRI yang memiliki tanggung jawab besar dalam hal penyiaran publik untuk dapat berperan lebih menjadi sebuah platform diseminasi informasi yang efektif karena jangkauan (area coverage) penyiaran yang sangat luas ke tiap pelosok nusantara.

“Banyak nilai-nilai radikal masuk dalam teknologi informasi digital, TVRI sebagai televisi negara yang berkewajiban dan punya tanggung jawab melakukan diseminasi informasi supaya bisa mereduksi nilai-nilai intolerasi. Pesan-pesan damai harus kita sampaikan. Hingga masyarakat punya daya imunitas, resilience, itu tugasnya TVRI,” ungkap Kepala BNPT.

Dirut TVRI pun setuju akan masukan dari Kepala BNPT. Kedepannya kerja sama akan dijalin dengan BNPT agar kebutuhan masyarakat akan infromasi yang akurat, tepercaya dan mendukung penuh persatuan serta perdamaian dapat disediakan oleh TVRI. “Sebagai TV publik, TVRI menyandang nilai-nilai kebangsaan, kita sangat concern permasalahan radikalisme dan intoleransi. Pertemuan hari ini dilakukan untuk berkoordinasi supaya kedepan Indonesia makin damai dan dapat melanjutkan pembangunan yang lebih baik. Banyak kemungkinan kerja sama dengan BNPT, karena itulah fungsi TVRI untuk melakukan diseminasi informasi kepada seluruh masyarakat Indonesia,” ungkap Helmi Yahya.

Saat ditanya terkait bentuk kerja sama kedepannya dengan BNPT, Helmi Yahya mengungkapkan bahwa sedang menyiapkan berbagai bentuk kerja sama, salah satunya melalui format program yang lebih menggugah ketertarikan masyarakat agar pemahaman mengenai bahaya radikalisme serta pesan damai lebih mengena di tiap lapisan masyarakat. “Jika hanya talk show, running text atau iklan layanan masyarakat itu sudah biasa. Kita sedang merumuskan bentuk yang tepat, saya cukup banyak pengalaman bermain dalam kreativitas dan yang penting message-nya sampai dengan tepat kepada masyarakat,” ungkap Dirut TVRI yang telah banyak malang melintang di industri pertelevisian ini.

TVRI yang baru-baru ini melakukan re-branding, senantiasa berinovasi agar menjadi lembaga penyiaran kelas dunia. Adanya reformasi di tubuh TVRI sendiri disambut baik dengan dukungan oleh masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Komjen. Pol. Suhardi Alius, MH., usai pertemuan berlangsung, bahwa saat ini TVRI harus memiliki kekuatan maksimal, utamanya menguasai wilayah Indonesia sendiri untuk bisa bersaing dengan perusahaan televisi swasta lainnya.

Kedepannya Kepala BNPT berharap, dukungan penuh pemerintah bahkan Kementerian lain lewat kebijakan dan kesepakatan kerja sama dapat memberi perubahan signifikan terhadap TVRI karena dinilai sebagai lembaga penyiaran publik yang terdepan menyebarkan pesan perdamaian serta nilai-nilai ke-Indonesiaan. “Tidak hanya BNPT, seluruh Kementerian perlu berperan serta mendukung TVRI. Pemerintah harus punya kebijakan, TVRI dan kedepannya mungkin RRI, akan menjadi garda terdepan dalam melakukan sosialisasi dan diseminasi dengan baik tentang nilai-nilai Indonesia, NKRI, keberagaman dan persatuan sehingga masyarakat punya rasa imunitas terhadap paham negatif yang bisa mempengaruhi eksistensi NKRI,” ungkap Kepala BNPT saat menutup kegiatan kali ini.