Jakarta – Menjelang penutupan pengiriman materi, panitia Lomba Video Pendek BNPT 2017 menyelenggarakan diskusi terpumpun, Selasa – Kamis (7-9/11/2017). Kegiatan ini untuk menentukan pembobotan nilai untuk proses penjurian yang akan segera dilaksanakan.

Kegiatan ini dihadiri oleh 5 orang juri, yaitu Sutjati Eka Tjandra (Samuan Film), Swastika Nohara (Penulis Sekenario), Ratrikala Bhre Aditya (Miles Film), Dyah Kusumawati (Kalbis Institute) dan Prisia Nasution (Aktris Film).

“Kegiatan ini penting untuk menyepakati dasar-dasar penilaian di proses penjurian,” kata koordinator juri, Sutjiati Eka Tjandra, Kamis (9/11/2017).

Tjandra menambahkan,  dalam diskusi yang sudah berlangsung dewan juri menetapkan 3 dasar penilaian, kesesuaian tema, daya gugah karya serta sinematografi dan artistik.

“Kesuaian tema menjadi yang paling utama. Apakah karya yang dikirimkan peserta sesuai dengan tema yang kita tetapkan, sehingga pesan apa yang akan disampaikan dapat dengan mudah diketahui,” jelas Tjandra.

Untuk daya gugah, Tjandra mengungkap untuk mengetahui kemampuan peserta membangun cerita dari video pendek yang dibuatnya. “Dari situ kita akan mengerti apakah video itu memiliki kemampuan menggugah orang-orang yang menontonnya untuk tersadar  bahwa terorisme sangat berbahaya, bahwa radikalisme dan terorisme adalah musuh bersama yang harus dilawan,” tambahnya.

Dasar penilaian terakhir adalah sinematografi atau artistik. Tingkat kepesertaan yang merupakan pelajar, masih kata Tjandra, menjadikan sinematografi atau artistik ditempatkan sebagai dasar penilaian terakhir.

“Biasanya akan kami gunakan di penilaian dua puluh besar. Untuk penentuan ke sepuluh besar, jika dari dua puluh karya ada nilai yang sama berdasarkan pesan dan daya gugah, akan kami tentukan berdasarkan sinematografinya,” jelas Tjandra.

Sinematografi dalam lomba video pendek BNPT dijadikan dasar penilaian terakhir juga dikarenakan penilaian sementara terhadap sejumlah karya yang masuk.

“Ada beberapa karya yang sinematografinya bagus, tapi ternyata pesannya tidak sampai ke penonton dan temanya tidak sesuai dengan yang ditetapkan panitia. Bagaimanapun lomba ini diadakan untuk tujuan pencegahan radikalisme dan terorisme, jadi pesannya harus benar-benar sampai ke masyarakat penonton,” tutup Tjandra. [shk/shk]