Jakarta – Terorisme dan radikalisme bagi banyak negara adalah bentuk ancaman keamanan. Hal ini juga dirasakan oleh Amerika Serikat, yang kian melindungi negaranya dari berbagai ancaman. Menimbang hal tersebut, Department of Homeland Security Amerika Serikat sebagai pihak yang mengurusi keamanan negaranya secara umum, mengunjungi BNPT untuk membahas penegakan hukum dan penanggulangan terorisme.

Bertempat di salah satu gedung di Jakarta, pada Senin(26/2), Kepala BNPT Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. menerima kunjungan dari Under Secretary for Intelligence and Analysis dari Department of Homeland Security (DHS), yang didampingi pejabat-pejabat dari Kedutaan Besar AS. Sementara itu Kepala BNPT didampingi oleh Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT, Brigjen. Pol. Drs. Budiono Sandi, S.H. M.Hum., Deputi Kerja Sama Internasional BNPT, Irjen. Pol. Drs. Hamidin, Direktur Pencegahan, Brigjen. Pol. Ir. Hamli, M.E. serta staf dari Direktorat Kerja Sama Bilateral.

Under Secretary yang mewakili Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, mengatakan bahwa tujuannya mengunjungi BNPT adalah untuk mempelajari pendekatan dan penanganan terkait kontra terorisme dan penegakan hukum di Indonesia. BNPT sebagai salah satu pihak yang menanggulangi terorisme dan radikalisme memiliki pendekatan yang menarik bagi pihaknya untuk dipelajari. Kunjungan yang bertujuan sebagai pendalaman pengetahuan ini juga memperkuat kerja sama bilateral yang telah terjalin di antara keduanya.

Di dalam diskusi, Kepala BNPT yang didampingi Pejabat BNPT menanggapi baik kunjungan tersebut dengan pembahasan secara detail terkait isu yang ingin dipelajari DHS. BNPT memaparkan secara detail mengenai pendekatan terorisme yand digunakan serta memberikan contoh penanganan. Pendekatan keras dan pendekatan lunak yang digunakan tak luput dibahas, dimana pihak DHS ingin mendalami pendekatan lunak yang digunakan BNPT.

Diskusi antar kedua belah pihak diperkaya dengan latar belakang pengalaman Pejabat DHS yang handal menangangi isu kejahatan lintas batas. Hal ini membuat membuat diskusi antar keduanya tak hanya membicarakan terorisme dan radikalisme, namun juga membicarakan bentuk kejahatan terkini yang menjadi ancaman bagi kedua negara. Melalu diskusi ini, keduanya menyepakati adanya bahaya radikalisasi melalui sosial media sehingga membutuhkan penanggulangan yang ketat di dunia maya.