Jakarta – Kerja sama lintas negara tentang pertukaran informasi dalam menanggulangi terorisme sudah merupakan kebutuhan setiap negara. Menyadari kebutuhan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selalu mengupayakan kerja sama dan menerima kunjungan delegasi dari beberapa negara. Kali ini, BNPT menerima kedatangan Direktur Jenderal Politik dari Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda.

Bertempat pada salah satu gedung di bilangan Jakarta, Selasa (28/11), Kepala BNPT Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, MH dan Deputi Kerja Sama Internasional Irjen. Pol. Drs. Hamidin, Direktur Kerja Sama Bilateral Brigjen. Pol. Drs. Budiono dan Kasubdit pada Deputi Kerja Sama Internasional, Wandi Adriano, bersama–sama menerima delegasi dari Kerajaan Belanda. Delegasi-delegasi tersebut adalah Dirjen Politik dari Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda, H.E. Andre Haspel, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, H.E. Rob Swartbol dan rombongan.

Delegasi Kerajaan Belanda tersebut menyempatkan kunjungan ini dalam rangkaian pertemuan Senior Officials Meeting RI-Belanda dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Kunjungan ke BNPT ini didasari dengan adanya kerja sama pertukaran informasi dalam penanggulangan terorisme antara kedua negara.

Belanda yang terus berupaya mengurai dan mengidentifikasi masalah terorisme meminta gambaran penanganan terorisme terkini di Indonesia. Hal ini dijawab Kepala BNPT dengan menjelaskan pendekatan yang digunakan yaitu Soft Approach dan Hard Approach.

Menanggapi penjelasan tersebut, delegasi Belanda terkesan dengan penanganan BNPT terkini dan menilai pendekatan yang digunakan sudah terintegrasi dengan lengkap. Mereka juga terkesan dengan pendekatan Soft Approach yang digunakan oleh BNPT.

Meskipun kedua negara menghadapi isu yang sama yaitu terorisme dan radikalisme, hal ini tidak berarti isu tersebut dapat diatasi secara umum. Melalui kunjungan ini, Kepala BNPT menilai bahwa isu terorisme yang dihadapi setiap negara berbeda-beda. “Kita juga belajar dan menerima informasi. Disinilah kita paham bahwa setiap negara mempunyai latar belakang masalah terorisme yang berbeda. Kunjungan seperti ini akan terus memperluas pengetahuan dan ilmu baru dalam menanggulangi terorisme,” ujar Drs. Suhardi Alius.

Sebelumnya, BNPT telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan NCTV (Koordinator Keamanan dan Kontraterorisme Nasional) Belanda pada bulan Juli 2017 lalu. Pada pertemuan ini, Indonesia dan Belanda sepakat bahwa kekalahan ISIS adalah tantangan baru dalam menanggulangi terorisme. Keduanya akan terus berupaya dalam menentukan langkah antisipasi dan dalam menaggapi Foreign Terrorist Returnees (FTF) dari wilayah konflik.