Jakarta – Generasi muda sebagai penerus bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu senantiasa memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme. Hal ini juga penting mengingat rasa kebangsaan dan nasionalisme dapat digunakan sebagai benteng diri dari berbagai tantangan dan ancaman negara.

Ceramah umum digelar di Auditorium Makarti Bhakti Nagari, Gedung B Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, pada Rabu (10/4) pagi. Mengangkat tema “resonansi kebangsaan dan bahaya serta pencegahan paham radikalisme dan terorisme”, Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Drs. Suhardi Alius, M.H. didampingi Sekretaris Utama Lembaga Administrasi Negara RI, Sri Hadyati menyampaikan ceramah terhadap puluhan CPNS LAN.

Mengawali ceramah umum, Sestama LAN menyampaikan momen pemberian ceramah umum oleh Kepala BNPT dinilai tepat waktu. Menurutnya dengan pegawai baru yang masih memiliki semangat dan idealisme yang tinggi perlu diperkaya dengan arahan nasionalisme serta pengetahuan akan bahaya radikal terorisme.

“Informasi dan pengalaman Komjen Pol. Suhardi Alius ini sangat kompleks dan akan baik sekali jika kita dapat memahami informasi ini. Mohon disampaikan kepada peserta agar betul-betul meresapi, sebagai calon pemimpin masa depan LAN, sehingga ceramah ini bisa menjadi bekal,” ujar Sri Hadyati.

Melihat dari realitas generasi muda kini, penanaman dalam diri terhadap nasionalisme dan rasa kebangsaan menjadi urgensi dalam menghadapi ancaman dan tantangan negara yang sudah tidak mengenal batasan. Menurut Kepala BNPT, hal ini menuntut perubahan untuk mengimbangi permasalahan yang ada.

“Saat ini permasalahan kita borderless, Indonesia terus menjadi konsumen pasar, permasalahan dunia maya hingga memasuki Pemilu ini antar teman bahkan keluarga bisa putus hubungan. Kita harus melakukan perubahan, mampu mengkritisi dan terus berakselerasi menghadapi masalah, kalua tidak kita bisa tertinggal,” ujar Mantan Sekretaris Lemhannas.

Di hadapan puluhan pegawai baru LAN, Kepala BNPT mengajak peserta untuk memiliki kepekaan kepada lingkungan sekitar. Kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi pemahaman-pemahaman menyimpang dan radikalisme negatif yang mencakup sifat-sifat intoleransi, anti NKRI, anti Pancasila serta nilai-nilai takfiri disinggung perlu dimiliki. Kepekaan dan kemampuan kritis itu menurutnya perlu diterapkan pada saat berselancar di dunia maya.

“Adik-adik perlu memahami bahwa gadget dan platform berbagai social media yang kalian miliki itu sudah diinfiltrasi oleh kelompok radikal. Kita dan lingkungan kita harus memiliki kemampuan filter dan verifikasi informasi, jangan mudah percaya apalagi terhadap yang merugikan kesatuan NKRI. Dengan kepekaan dan kemampuan kritis itu kalian dapat mengidentifikasi, dan untuk melawan dan mempertahankan diri, berpeganganlah dengan nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan kearifan lokal, ini bekal dasar kalian,” ujar Kepala BNPT.

Di akhir ceramah, sesi tanya jawab antara peserta dan Kepala BNPT berlangsung dengan aktif. Sekretaris Utama LAN menutup acara dengan ajakan kepada puluhan pegawai baru LAN untuk dapat menjadikan ceramah Kepala BNPT sebagai inspirasi dan titik langkah dalam bergerak ke masa depan.

“Jangan mudah terpengaruh, jangan permisif dan kita semua harus mampu mengikuti arus dan dinamis namun tetap ikuti naluri hati. Sebagai masa depan bangsa, nasionalisme, dan kebangsaan harus senantiasa ada di dalam diri dan hati kita,” tutup Sestama LAN.