Jakarta – Pengamanan dan kewaspadaan terhadap bahaya tindakan radikal terorisme kian menjadi perhatian stakeholders negara tak terkecuali BUMN. PT. Pertamina Persero sebagai salah satu tiang ekonomi negara sekaligus pemangku objek vital nasional (obvitnas) mengundang Kepala BNPT memberikan pembekalan bahaya radikal terorisme dalam Leaders Forum.

Bertempat di Ruang Pertamax Lt. 21 Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina, Jakarta Pusat, Pertamina Leaders Forum di gelar pada Kamis (10/10) siang. Mengangkat tema “Bahaya Terorisme dan Radikalisme dalam Pengamanan Bisnis Perusahaan” kegiatan ini dihadiri Senior Vice President, Vice President, puluhan Direksi Anak Perusahaan PT Pertamina (Persero) dan Manajer Operasional PT. Pertamina Se-Indonesia melalui video teleconference.

Mengawali forum, Direktur Sumber Daya Manusia PT. Pertamina, Koeshartanto, menyampaikan alasan mengundang Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. dalam forum ini yang meliputi keamanan objek vital dan SDM. Hal ini berkaca pada serangan terorisme yang terjadi pada September lalu terhadap Kilang Minyak Perusahaan Saudi Arabia Aramco. Dampak serangan tersebut yang berimbas global mendorong urgensi pengamanan dan kewaspadaan terkait radikal terorisme.

“September lalu perusahaan minyak terbesar di dunia terkena serangan teroris via drone. Ini sangat mempengaruhi suplai minyak dunia, perlu disadari bahwa oil dan gas menjadi sensitif, terlebih sebagai aset negara, infrastruktur dan sifat kilang minyak yang terisolir sering menjadi incaran terorisme,” ucap Koeshartanto.

“Saat ini, generasi muda di PT. Pertamina Persero sebanyak 62% dari jumlah keseluruhan, seperti yang telah diketahui generasi muda juga menjadi incaran utama kelompok radikal sehingga kami membutuhkan upaya internalisasi resonansi nasionalisme sebagai tameng dan daya tangkal dari radikal terrosime,” ujar Direktur SDM Koeshartanto.

Mengawali pembekalan, Kepala BNPT menyampaikan ancaman radikal terorisme merupakan perkara yang perlu ditanggapi serius oleh seluruh pihak tanpa terkecuali. Terlebih Pertamina sebagai salah satu pondasi ekonomi Indonesia perlu lebih memiliki daya tangkal.

“Radikal terorisme itu tidak memandang siapa pun, orang pintar pun dapat terkena paparan dan mengimani radikalisme. Ini yang harus diwaspadai, tidak hanya ancaman dari luar saja tapi bahkan dari tubuh internal,” ujar Kepala BNPT.

Kepala BNPT juga menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi mempengaruhi perkembangan kelompok radikal. Utilisasi media sosial sebagai wadah sosialisasi radikalisme hingga rekrutmen online turut disampaikan oleh Kepala BNPT. Hal ini bertujuan untuk menggambarkan radikal terorisme yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Terorisme lama itu proses infiltrasinya langsung dan bai’at-nya langsung, sementara jaman sekarang semua serba online. Kita bisa saja terpapar. Daya tangkalnya, kita berpedangan dengan nasionalisme dan cinta tanah air, ini perlu diterapkan oleh semua warga negara,” ujar Kepala BNPT.

Ditemui usai acara, Direktur PT. Pertamina menyampaikan saat ini PT. Pertamina membutuhkan peningkatan kewaspadaan akan ancaman internal. Hal ini mengingat Pertamina telah menjalin kerja sama dengan TNI/Polri terkait pengamanan secara fisik.

“Yang terjadi di Aramco itu hanya permukaan, perhatian kami saat ini sebetulnya hanya di dalam, kami ingin meningkatkan kewaspadaan dari internal dan wawasan kebangsaan, ini yang diharapkan menjadi imunitas bagi karyawan dan keluarganya,” ujar Nicke Widyawati.