Semarang – Melihat fenomena dan isu yang berkembang saat ini, tidak dapat dipungkiri jika lingkungan akademik dapat menjadi target infiltrasi paham dan gerakan radikalisme. Karena sifatnya ideologis, perlu kewaspadaan tinggi bagi para pelajar, khususnya mahasiswa di perguruan tinggi dalam menghadapi masalah ini.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., memahami betul betapa peliknya permasalahan ini hingga dapat mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu pemberian pembekalan mengenai bahaya radikalisme dan terorisme di lingkungan kampus gencar beliau lakukan.

Rabu pagi (20/02/2019) Kepala BNPT berkesempatan hadir dalam kegiatan Pelantikan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Diponegoro, Semarang, untuk memberikan pembekalan mengenai “Bahaya Radikalisme dan Terorisme”. Acara ini turut dihadiri Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H. yang juga berperan sebagai moderator saat sesi pembekalan oleh Kepala BNPT berlangsung.

Selain itu hadir tamu undangan lainnya seperti Ketua Senat, Majelis Wali Amanat, para Direktur dan Dosen di lingkungan Universitas Diponegoro. Hadir pula Tim Satgas Anti Radikalisme yaitu sebuah tim yang dibentuk khusus untuk menangkal persebaran paham radikal dan terorisme di lingkungan kampus UNDIP.

Di hadapan 674 mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas, Mantan Sestama Lemhannas RI ini memberikan pembekalan mengenai bahaya radikalisme dan bagaimana cara mengidentifikasinya, juga memberikan tindakan solutif agar tidak terpapar hal-hal yang sifatnya negatif. Salah satu contoh yang diangkat adalah infiltrasi paham radikal melalui kegiatan penerimaan mahasiswa baru yang tanpa disadari telah menjadi entry point masuknya paham radikal di lingkungan perguruan tinggi. Satu dari sekian banyak contoh fenomena yang terjadi tersebut diharapkan membuat para mahasiswa tidak apatis mengidentifikasi perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Kepala BNPT kemudian membagi pengalaman menangani permasalahan terorisme dan radikalisme tanpa kekerasan melainkan menggunakan pendekatan dengan komunikasi yang persuasif, karena dengan kekerasan hanya akan memproduksi kekerasan baru. Oleh karena itu pendekatan soft power menjadi tumpuan BNPT untuk melakukan tindak pencegahan terorisme dan radikalisme. Sementara itu, hard power approach tetap dilaksanakan secara proporsional.

Kepala BNPT sekaligus mengingatkan kepada para mahasiswa untuk fokus belajar dan menyelesaikan studi tepat waktu. Jangan sampai bias karena turbulensi menjadi sarjana cukup banyak. Kemampuan intelektual yang memadai memang menjadi pedoman agar tidak mudah terprovokasi paham radikalisme namun skill dan knowledge saja tidak cukup untuk menghadapi munculnya nilai buruk yang menggerus nasionalisme.

Memandang aspek kebangsaan harus memakai hati, empati dan berlandaskan moral. Dalam kegiatan kali ini beliau menyampaikan betapa isu kebangsaan harus dijaga betul, karena kian tereduksi di era digitalisasi. Termasuk rasa nasionalisme yang harus dibangkitkan kembali.

“Sekarang ini anak muda harus pintar baca situasi, dunia sekarang hanya dalam genggaman kita. Pintar-pintarlah melakukan filter informasi yang masuk jangan sampai kalian ‘sharing’ tanpa saring.” ujarnya.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini menyampaikan bahwa seiring kemajuan informasi dan teknologi, anak muda memiliki potensi besar berperan menjadi agent of change atau agen perubahan juga sebagai peace ambassador atau duta damai untuk menyebarkan pesan perdamaian. Hal ini juga merupakan salah satu alasan dibalik gencarnya BNPT merekrut anak muda yang berwawasan luas untuk menyampaikan pesan damai kepada generasi milenial khususnya lewat media sosial.

Menutup kegiatannya, Mantan Kabareskrim ini berharap, “Organisasi Mahasiswa ini terdiri dari mahasiswa pilihan yang merupakan representasi dari setiap fakultas. Diharapkan mereka bisa jadi pemimpin dan mediator yang menjembatani informasi ini kepada teman-temannya. Semoga kegiatan serupa dapat dilakukan di universitas lain sehingga benih-benih perdamaian bisa kita sebarkan melalui mereka”.