Padang – Sebelum para mahasiswa baru diberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan oleh perguruan tinggi dibutuhkan pembekalan sejak dini tentang wawasan kebangsaan dan pemahaman bahaya radikalisme di lingkungan kampus. Menyadari akan hal itu, perguruan tinggi di Padang, Sumatera Barat mengundang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M. H., untuk menjadi narasumber kuliah umum dalam masa orientasi mahasiswa baru di Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.

Pada Rabu (8/8/2018) pagi, Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M. H., mengisi kuliah umum di hadapan 5.800 mahasiswa baru Universitas Andalas, Padang. Dalam paparannya Kepala BNPT mengatakan pembekalan wawasan kebangsaan ini untuk membangkitkan nasionalisme para mahasiswa baru yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa ini.

“Kita bangkitkan nasionalisme kita bangun Sumatera Barat dengan memunculkan bibit menjadi generasi penerus bangsa yang kelak menjadi masa depan bangsa ini, ” ujar Suhardi Alius.

Lebih lanjut, mantan Sestama Lemhannas RI mengatakan masalah kebangsaan ini dimulai dari orang-orang berbicara kebangsaan dengan logika tanpa menggunakan perasaan.

“Masalah kebangsaan, saya gak pernah pake logika, saya pakai hati, kalo kita berbicara kebangsaan dgn logika tidak selesai harus pakai perasaan. Ingat, republik ini bukan punya kalian tetapi punya anak cucu kalian, pertanyaan siapa dan apa yang kita wariskan, yakni kita harus merawat kebinekaannya, ” ujar Kepala BNPT.

Setelah memberikan pembekalan wawasan kebangsaan, Kepala BNPT langsung memberikan pemahaman terkait bahaya radikalisme dan terorisme di Indonesia. Komjen Suhardi mengingatkan sasaran terorisme kini merupakan generasi muda dan perempuan untuk itu harus diberi pemahaman sejak dini terkait bahaya radikalisme.

“Anak-anak berpotensi jadi teroris, beda dengan Al qaeda musuhnya hanya amerika dan sekutunya, kalo ISIS kepada siapapun mau dia anak, perempuan dan lain-lain, “tegas Kepala BNPT.

Selain itu, Suhardi Alius menjelaskan terkait tahapan dari radikalisasi diantaranya berawal dari pra radikalisasi yaitu proses awal radikalisasi individu sebelum menjadi garis keras, Identifikasi diri yaitu individu mulai dimasuki ideologi radikal, Indoktrinasi mulai meyakini bahwa tindakan jihad dibenarkan untuk mewujudkan tujuan kelompok tersebut, terlahir kembali yaitu individu memasuki eksekutor teror.

“Berikut beberapa tahapan radikalisasi terdiri dari pra radikalisasi, identifikasi diri, Indoktrinasi, dan terlahir kembali. Tahapan ini untuk memberikan pemahaman dalam mencegah paham radikalisme jika terjadi di sekitar lingkungan kita, “ucapnya.

Setelah memberikan kuliah umum di Universitas Andalas, Kepala BNPT melanjutkan kuliah umumnya di Universitas Negeri Padang pada Rabu (8/8/2018) siang, materi yang diberikan masih terkait resonansi kebangsaan dan bahaya radikalisme dan terorisme di hadapan sekitar 3000 mahasiswa.

Selain wawasan kebangsaan, alumni akpol 1985 menegaskan pendekatan yang dilakukan BNPT dalam mencegah dan menanggulangi terorisme yaitu menggunakan soft approach. Menurutnya pendekatan tersebut sudah dipresentasikan di tingkat dunia sehingga banyak negara yang ingin belajar kepada Indonesia tentang soft approach.

Saat diwawancarai, Kepala BNPT menjelaskan Kuliah umum di kedua kampus ini untuk memberikan semangat dan memompa kembali nasionalisme generasi muda, karena menurutnya mahasiswa baru harus dibekali pengetahuan dan semangat kebinekaan dan kecintaan terhadap tanah air untuk menghadapi pelajaran nanti di masa kuliah.

“Kuliah umum ini juga mengingatkan kepada mahasiswa baru untuk saling mengingatkan kepada mereka yang sudah mulai terpapar jangan hanya dibiarkan dan cuek, “tutup Suhardi Alius.