Jakarta – Diplomat dituntut memiliki wawasan kebangsaan dan mengetahui perkembangan terkini tentang radikal terorisme, Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (Sesparlu)  mengundang Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen, Pol. Drs. Suhardi Alius, M. H., sebagai narasumber dalam kegiatan Diklat Sesparlu Angkatan ke-60 Tahun Anggaran 2018.

Kamis (18/10/2018) pagi, bertempat di Ruang Kelas Sesparlu, Lantai 3 Pusdiklat Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kepala BNPT memberikan paparan tentang resonansi kebangsaan dan bahaya radikal terorisme di hadapan para peserta diklat yang merupakan diplomat senior Kemlu.

Dalam paparannya Komjen Suhardi Alius mengatakan para diplomat harus memiliki wawasan kebangsaan dan mengetahui informasi terkait radikal terorisme di Indonesia untuk itu materi wawasan tersebut perlu diterapkan kepada para peserta.

“Kita berkepentingan untuk menyampaikan pesan-pesan isu masalah terorisme yang aktual tentunya dan menjadi bahan buat mereka bisa menjadi mediator dan fasilitator kebijakan pemerintah juga menjadi perpanjangan tangan kita di luar negeri, “ujar Kepala BNPT.

Lebih lanjut, Mantan Sestama Lemhanas RI menjelaskan tentang perkembangan radikal terorisme saat ini. Menurutnya radikal terorisme ini muncul dari sikap intoleran, anti pancasila, anti NKRI, penyebaran paham takfiri, dan menyebarkan disintegrasi bangsa.

Selain menjelaskan perkembangan terorisme, Beliau juga memutarkan video pengakuan pelaku Bom JW marriot 2009 silam.

“Video pengakuan bom bunuh diri JW marriot membuktikan anak muda menjadi sasaran terorisme dan saat ini tak hanya laki – laki yang menjadi sasaran terorisme namun juga perempuan” kata Suhardi.

Sementara itu, Suhardi menjelaskan pola baru terorisme diantaranya Cyber Jihad dan khilafah, self radicalization
Indoktrinisasi online, Rekrutmen dan Pembaiatan online dan Lone wolf. 

Alumni akpol 1985 juga memutarkan sejumlah video hasil kerja BNPT dalam mencegah dan menanggulangi radikal terorisme melalui soft approach.

Saat ditemui usai kegiatan, Suhardi Alius mengatakan hal tersebut bisa dielaborasi oleh mereka dengan pemahaman yang cukup dan bisa menjadi suatu pola bagaimana menangani radikal terorisme di Indonesia.

“Oleh sebab itu kita akan berkolaborasi sebaik mungkin dengan kebijakan kemlu untuk memberikan masukan-masukan yang terbaik untuk menjaga ketertiban, keamanan dalam menjaga kedamaian dunia, ” ujar Suhardi.