Jakarta – Pembekalan bahaya radikalisme dan terorisme perlu dipahami oleh seluas-luasnya masyarakat. Pembekalan akan bahaya, identifikasi gejala dan perlakuan yang tepat perlu pula dipahami oleh satuan pertahanan negara, seperti Prajurit Kopassus. Memahami hal ini, Kepala BNPT memberikan paparan tentang bahaya radikalisme dan terorisme kepada ratusan Prajurit Komanda Pasukan Khusus (Kopassus).

Bertempat di Balai Komando, Makopasuss Cijantung, Jakarta Timur, pembekalan diberikan pada Selasa pagi (5/3). Pada pembekalan ini Kepala BNPT Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius S.H., M.H., didampingi oleh seluruh jajaran pejabat BNPT meliputi Sestama BNPT, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan, Inspektur BNPT serta Pejabat Eselon II BNPT lainnya.

Sebelum memasuki pembekalan, Danjen Kopasuss, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa S.E., M.Tr. (Han), memberikan kata sambutan. Dalam sambutannya, Danjen Kopasuss mengatakan dinamika sosial yang kompleks juga membawa ancaman dan bahaya yang beragam. Beliau mengajak prajurit-prajurit Kopasuss yang hadir untuk mempelajari pembejalan yang diberikan.

“Sebagai bagian dari pertahanan negara, satuan Kopasuss perlu memahami bahaya dan ancaman dari radikalisme dan terorisme. Ini merupakan suatu kehormatan dan kesempatan yang sangat baik untuk menerima pembekalan dari Kepala BNPT. Simak secara cermat dan teliti, jangan ragu tanyakan yang terkait dengan tugas pokokmu,” penjelasan Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa.

Mengawali pembekalan, Kepala BNPT memperkenalkan diri kepada peserta yang hadir terhadap salah satu penyebab masuknya pemahaman radikal yaitu nasionalisme. Menurutnya pengikisan nilai-nilai nasionalisme yang diiringi dengan perkembangan teknologi dapat semakin merugikan negara.

“Perkembangan Teknologi Informasi (TI) tentu membawa kemajuan namun juga ada aspek negatifnya. Masyarakat dan anak muda kita dapat dengan mudah terpapar nilai-nilai kebencian dan paham menyimpang,” papar Kepala BNPT.

Hal ini didukung dengan maraknya konten-konten radikal yang dapat ditemui di dunia maya. Mantan Sestama Lemhannas tersebut menambahkan bahwa dalam aliran baru terorisme, dunia maya secara masif digunakan untuk kepentingan mereka. Di hadapan 451 pejabat dan prajurit Komando Pasukan Khusus tersebut, Kepala BNPT mengajak peserta untuk mengawasi dan tidak meremehkan penggunaan dunia maya di sekitar.

“Kelompok radikal terorisme memanfaatkan internet untuk berbagai hal, seperti penyebaran nilai-nilai, provokasi, untuk menyebarkan rasa takut hingga rekrutmen. Jangan sampai nilai-nilai menyimpang itu terserap atau berhasil merekrut masyarakat kita, sebagai satuan pertahanan negara ini harus diwaspadai. Kita tidak mau negara ini terpecah-pecah,” tegas Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

Lebih lanjut Kepala BNPT memaparkan identifikasi dasar terhadap individu/kelompok yang memasuki kategori radikal serta peran yang dapat dilakukan oleh Prajurit Kopassus.

“Ada 4 hal, kalau kita menemui adanya sikap anti Pancasila, anti NKRI, intoleransi dan nilai-nilai takfiri, itu sudah menyimpang. Dan peran prajurit Kopassus untuk punya sense of crisis, naluri kebangsaan dan peka terhadap perubahan dan memiliki kemampuan analisis,” ujar Kepala BNPT.

Usai paparan, beberapa peserta kegiatan berpartisipasi dalam tanya jawab. Acara diakhiri dengan foto bersama antara Kepala BNPT dan Danjen Kopassus serta pertukaran cinderamata. Ditemui usai kegiatan, Danjen Kopassus menyatakan apresiasi dan rasa terima kasih atas pembekalan yang diberikan.

“Setelah menerima pembekalan kami menjadi paham akan perkembangan terorisme, paska terorisme hingga korban terorisme. Apa yang sudah dilakukan Kepala BNPT dalam mendamaikan anak bangsa sangat baik, kita berharap untuk terus menjaga komunikasi agar kami dapat membantu dalam hal monitoring,” ujar Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa.