Jatinangor – Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., kembali memberikan resonansi kebangsaan serta bahaya radikalisme dan terorisme di hadapan 3.500 Satuan Praja tingkat III dan IV, serta civitas akademika IPDN dalam Studium Generale atau kuliah umum dengan tema “Pembangunan Karakter Bela Negara Civitas Akademika Melalui Penangkalan Paham Radikalisme di Lingkungan Kampus IPDN”. Kuliah umum ini, diselenggarakan pada Jum’at siang (4/10) di Gedung Balairung Jenderal Rudini, Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat.

Memasuki gedung acara, Kepala BNPT didampingi Rektor IPDN, Prof. Dr. Murtir Jeddawi, S.H., S.Sos., M.Si., beserta segenap jajaran civitas akademika IPDN disambut kehadirannya oleh Praja IPDN dengan membentuk formasi Jajar Komando sebagai rangkaian prosesi penyambutan. Mengawali acara, Rektor IPDN memberikan sambutan dimana disebutkan bahwa IPDN berkomitmen setia pada pilar bangsa. “IPDN adalah kampus yg mencetak ASN sebagai pelayan masyarakat dengan doktrin setia pada Pancasila, NKRI UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini sudah jadi pilihan hidup kita di Indonesia. Hadir 3.500 Praja yang berasal dari 34 Provinsi yang telah ikut seleksi ketat termasuk melalui tes pemahaman wawasan nusantara, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika,” ungkap Rektor IPDN.

Mengawali materinya, Kepala BNPT menjelaskan bahwa fenomena kemajuan teknologi saat ini, menjadi salah satu ciri globalisasi yang tidak dapat dihindari. Penduduk Indonesia aktif mengakses internet, namun bahaya negatif termasuk penyebaran berita bohong bahkan paham-paham radikal dapat saja mengganggu keamanan masyarakat. Terlebih apabila kita tidak dapat memfilter informasi yang baik dan benar. “Inilah yang menjadi akar masalah kita, kemajuan teknologi memang harus kita terima namun bisa menimbulkan hal-hal negatif juga. Dengan handphone ini, dunia ada di genggaman kita. Banyak berita hoaks beredar karena tidak punya kemampuan verifikasi, jadi kita harus hati-hati,” imbau Kepala BNPT.

Kepala BNPT kemudian memberi arahan, sebagai pemimpin masa depan dan sebagai garda depan bersama dengan TNI/Polri para Praja harus memiliki jiwa nasionalisme, dan cinta NKRI yang tinggi. Terlebih nantinya lulusan praja IPDN akan langsung di tempatkan di berbagai daerah di Indonesia dan menjadi ujung tombak persatuan bangsa.

“Mereka nantinya ini adalah para calon pemimpin daerah yang akan disebar oleh Kementerian Dalam Negeri sehingga kita perlu bekali hal-hal yang sangat positif. Sejak dini, kalian perlu diberikan pembekalan, bagaimana mengenali radikalisme, isu-isu intoleransi dan sebagainya yang harus diwaspadai. Sehingga kalian bisa menjadi agen-agen kita yang sanggup menghadapi dinamika di masyarakat nanti. Utamakan kewajiban kalian menjadi pengayom, pelayan masyarakat yang baik,” ujar Kepala BNPT.

Diharapkan dengan kuliah umum yang diberikan oleh Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., para peserta mampu mengaplikasikan dan memberikan pencerahan kepada mereka atau siapapun yang terpapar dan menjadi bekal mereka bagaimana mencari solusi dan bisa mencegah itu semua. Bahkan Rektor IPDN berharap agar kegiatan seperti ini juga dilakukan di 7 kampus IPDN lainnya.

“Kami juga berharap ada 7 kampus IPDN lagi yang bisa diberikan pemahaman yang sama terkait radikalisme dan terorisme bahkan secara lebih lengkap lagi, agar informasi yang disampaikan bisa diterapkan oleh seluruh praja IPDN. Informasi yang tadi diberikan menjadi bahan bagi kami kemudian kami akan menyesuaikan dengan kurikulum mengidentifikasi teman-teman yang kemungkinan ada kemiripan-kemiripan untuk melakukan pencegahan dan deteksi sedini mungkin sesuai arahan kepala BNPT,” ungkap Rektor IPDN.