Kepala BNPT Berikan Resonansi Kebangsaan Di Hadapan Ribuan Mahasiswa Universitas Negeri Padang

Padang – Kurang lebih 9.000 mahasiswa mengikuti kuliah umum Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) pada Rabu (22/08) siang. Guna mengantisipasi membludaknya peserta, kuliah umum ini juga disiarkan langsung untuk mahasiswa yang terbagi di masing-masing auditorium fakultas UNP melalui teknologi konferensi video.

Kuliah umum bertema “Resonansi Kebangsaan dan Bahaya Serta Pencegahan Radikalisme” ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) bagi para mahasiswa Universitas Negeri Padang. Memberikan pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan secara menyeluruh, bagi para mahasiswa baru sangat penting agar kelak mereka dapat membentengi diri dari paham-paham yang negatif saat sedang menempuh pendidikan maupun usai lulus universitas. Perlu diketahui jika tahun ini, Universitas Negeri Padang menerima 10.000 mahasiswa baru termasuk 1.000 diantaranya adalah mahasiswa pascasarjana, jumlah yang begitu besar tersebut mendorong kampus untuk menyelenggarakan acara secara masif dan serentak.

Prof. Drs. Ganefri, M.Pd, Ph.D selaku Rektor Univesitas Negeri Padang membuka kuliah umum dengan berpesan kepada para peserta didik baru agar menyadari bahwa paham-paham negatif tanpa kita sadari dengan berbagai macam trik dan modelnya menyusupi anak-anak muda khususnya mahasiswa. Dilanjutkan bahwa dengan diundangnya Kepala BNPT untuk mengisi kuliah umum sebesar ini, menjadi bukti keseriusan dan komitmen Universitas Padang untuk menolak radikalisme dan terorisme. Isu radikalisme, ujarnya, tidak cukup hanya digaungkan saat pemberian seminar untuk mahasiswa melainkan dosen dan seluruh civitas akademika lingkungan kampus perlu dilibatkan.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., mengawali kuliah umum dengan menggambarkan situasi terkini di Indonesia yang mudah sekali dipecah-belah hanya karena berita hoaks dan ujaran kebencian yang diskriminatif tersebar tanpa kontrol di media sosial. Meskipun teknologi memudahkan kehidupan kita, namun ada sisi kelamnya juga. Tentu saja sisi kelam yang dimaksud adalah bagaimana media sosial menjadi alat masuknya paham radikalisme dan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

“Meskipun kita didekatkan dengan teknologi seperti yang sedang kita lakukan sekarang (konferensi video), tetapi ada juga sisi negatifnya. Karena tidak ada interaksi sosial, ini yang menjadi bahaya, baik mengancam kebangsaan maupun bisa menimbulkan masalah radikalisme itu sendiri. Karena teknologi membuat berita bohong tersebar cepat, hingga menimbulkan problema bagi saudara-saudara kita. Belum lagi ongkos sosial dan kerusakan materiil yang ditimbulkan,” ujar Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

Populasi yang terus meningkat seperti yang sedang dialami Indonesia dianggap jadi celah kelompok-kelompok tertentu memanfaatkan hal ini untuk memecah belah persatuan melalui paham-paham radikal terorisme. Bonus demografi dapat menjadibeban apabila tidak bisa dimanfaatkan mengingat kondisi negara kita yang majemuk dan tingkat pluralismenya tinggi.

“Tidak ada Indonesia tanpa Aceh sampai Papua. Itu Indonesia yang harus kita jaga. Kalau kita tidak mampu mengatasinya, persatuan bisa tercabik-cabik,” imbau Kepala BNPT saat menekankan bahwa persaudaraan merupakan landasan hidup bangsa oleh karena itu kita semua harus bahu-membahu mewujudkan perdamaian di Indonesia.

Prof. Drs. Ganefri, M.Pd, Ph.D usai acara menyampaikan rasa terimakasih atas kehadiran BNPT untuk langsung memberikan pemahaman bagi mahasiswa UNP juga harapan kedepannya setelah para mahasiswa mendapatkan paparan tersebut. “9.600 mahasiswa baru Universitas Negeri Padang secara simultan mendapatkan kuliah umum dan pengarahan dari Kepala BNPT yang begitu menarik bahkan saya lihat tidak ada satupun mahasiswa yang beranjak, semua terpana dan mudah-mudahan meresap ke hati anak-anak yang adalah calon-calon pemimpin bangsa kedepan yang punya tanggung jawab untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,” ujar Rektor Universitas Negeri Padang ini berujar.

Usai kegiatan, Kepala BNPT menjelaskan bahwa inti dari kehadirannya kali ini adalah agar para mahasiswa dapat berperan menjadi agen perubahan bagi lingkungannya agar tidak ditemukan paham radikalisme dan terorime di Indonesia. “Ini kali ketiga saya diundang UNP untuk memberikan pembekalan. Saya berikan pemahaman supaya mahasiswa UNP, sebagai calon-calon pemimpin bisa tahu persis bahaya paham radikal dan intoleransi agar bisa menghindari bahkan bisa menjadi agent of change untuk meluruskan jika terjadi di lingkungan mereka. Mudah-mudahan mereka menjadi pemimpin yang kita harapkan khususnya untuk tanah Minang yang kita cita-citakan bersama,” tutup Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

This post was last modified on August 23, 2019, 7:02 am