Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam memberikan pemahaman menyeluruh akan bahaya radikalisme dan terorisme di tengah masyarakat tidak tanggung-tanggung juga menyasar kelompok rentan paparan radikalisme yang berusia muda khususnya di kalangan mahasiswa. Terlebih, disinyalir bahwa momen penerimaan mahasiswa baru bisa menjadi entry point atau gerbang masuknya paham radikalisme negatif jika kegiatan-kegiatan tersebut tidak dimonitor dengan ketat oleh pihak kampus.

Oleh karena itu, bertepatan pada penyelenggaraan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pancasila, Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., diundang untuk memberikan Ceramah Pancasila bertajuk “Implementasi Nilai-nilai Luhur Pancasila sebagai Perwujudan Bela Negara dan Penangkal Radikalisme dan Terorisme” yang diselenggarakan pada Senin (26/08) pagi di Gedung Serbaguna Universitas Pancasila, Jakarta.

Selain hadirnya segenap civitas akademika Universitas Pancasila termasuk para Wakil Rektor, Dosen juga Ketua serta Pengurus Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila, turut diundang pula Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar untuk memberikan pidato kunci. Masih berkaitan dengan tema yang diangkat dalam kegiatan PKKMB kali ini, Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar dalam pidatonya menjelaskan bahwa era global saat ini adalah era kompetitif yang sarat dengan persaingan sehingga dibutuhkan SDM Indonesia yang unggul dan senantiasa taat dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

“Selama ini kita memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan negara lain. Rakyat yang jumlahnya besar, letak geografis yang strategis. Wajar jika kita bangga. Namun sekarang kita harus bisa mengubah fokus keunggulan yang komparatif tersebut menjadi keunggulan kompetitif. Kuncinya terletak pada SDM. Kita harus menciptakan SDM yang berdaya saing tinggi,” ujar Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar. Dijelaskan lebih lanjut bahwa proses pembangunan di Indonesia akan sukses jika masyarakatnya disiplin dan taat hukum atau law-abiding citizen oleh karena itu, pemahaman mendalam akan nilai-nilai Keindonesiaan diperlukan sebagai acuan hidup bermasyarakat dan tidak hanya sekedar ucapan di mulut semata.

Acara kemudian dilanjutkan oleh Resonansi Kebangsaan yang dipimpin oleh Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. Di hadapan 2.367 mahasiswa baru Universitas Pancasila, Kepala BNPT memberikan pencerahan terkait bahaya radikalisme yang justru sering ditemui menyerang anak muda. Pengaruh radikalisme negatif dapat menyusup dengan mudah karena kemajuan teknologi yang membuat segalanya menjadi borderless atau tanpa batas berpengaruh juga terhadap spektrum ancaman radikalisme dan terorisme yang kini menjadi tidak bersekat.

Dijelaskan oleh Mantan Kabareskrim Polri ini bahwa sebenarnya benturan intoleransi di tengah masyarakat harusnya tidak sampai terjadi jika kita berpegang teguh dengan pilar bangsa khususnya nilai-nilai luhur Pancasila. Dengan kualitas-kualitas yang berlandaskan akar sejarah konsensus kebangsaan tersebut, diharapkan para peserta mengenal mana nilai-nilai yang salah dan mana yang betul untuk diterapkan sehingga tidak mudah terdampak radikalisme yang mengancam kedaulatan NKRI.

Rektor Universitas Pancasila, Prof. Dr. Wahono Sumaryono, Apt., saat ditemui oleh awak media menjelaskan bahwa Universitas Pancasila selalu menyelenggarakan aktivitas akademis maupun non-akademis seperti pembangunan karakter mahasiswa berdasarkan nilai-nilai luhur dan etika moral Pancasila. Sehingga kedepannya setelah mendapatkan pembekalan dari Kepala BNPT, langkah-langkah untuk mengantisipasi dan deteksi dini akan segera diimplementasikan secara nyata di lingkungan Universitas.

“Tentunya pencerahan dari Kepala BNPT ini akan menjadi masukan untuk kami. Kita melakukan langkah-langkah secara akademik melalui penjelasan-penjelasan di dalam mata kuliah wajib umum juga sehari-harinya dijelaskan di setiap kegiatan rohani di kampus. Kita terus menjalankan kewaspadaan dengan BNPT terkait masalah radikalisme ini. Seluruh dosen, tenaga pendidik dan organisasi mahasiswa juga berperan nyata untuk menanggulangi terorisme. Seperti pesan Kepala BNPT, ini tugas kita bersama bukan hanya BNPT,” ujar Rektor Universitas Pancasila.

Usai acara, Kepala BNPT kembali mengingatkan khususnya bagi para generasi muda bahwa di tengah era globalisasi ini, keakraban sesama teman di lingkungan sehari-hari maupun di lingkungan perkuliahan harus kembali menjadi tradisi. Mahasiswa dituntut aktif memberi masukan kepada kampus, jangan membiarkan saja. Bahkan diperlukan upaya lebih dengan cara menyebarkan narasi perdamaian yang disesuaikan dengan gaya bahasa milenial agar tepat sasaran.

“Kita ingatkan para anak-anak muda kalau mereka inilah sasaran terpapar paham radikalisme. Mereka masih muda dan mencari jati diri. Emosinya masih belum stabil, jika melihat sesuatu yang heroik cepat sekali responnya, makanya kita harus selamatkan. Kita butuh mengidentifikasi dan melakukan diseminasi pesan-pesan perdamaian dengan gaya bahasa mereka yang berkaitan dengan pecegahan,” lanjut Kepala BNPT.

Pria yang pernah duduk sebagai Kadiv Humas Mabes Polri ini kemudian kembali mengingatkan bahwa menanggulangi radikalisme dan terorisme telah menjadi tanggung jawab bersama, tidak cukup hanya BNPT yang berperan. “Tugas BNPT kaitannya pencegahan dan mereduksi kalau bisa menghilangkan radikalisme dan terorisme. Yang kita hadapi itu ideologi, tidak mudah. Butuh semua stakeholder untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa sama-sama merawat bangsa kita. Jangan sampai negara kita tercabik-cabik hanya karena hal itu,” ujarnya menutup kegiatan.