Washington D.C. – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme kembali mengadakan kunjungan kerja ke Amerika Serikat guna mempererat hubungan bilateral antar kedua negara dalam aspek penanggulangan terorisme. Dipimpin langsung oleh Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., delegasi BNPT juga meliputi pejabat pimpinan BNPT yang terkait.

Dalam kunjungan kerja kali ini, Kepala BNPT, berkesempatan untuk hadir menjadi narasumber dalam diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh United States-Indonesia Society (USINDO), pada hari Selasa (24/07) di Washington D.C. USINDO sendiri merupakan sebuah organisasi non-pemerintah yang dibentuk untuk mempererat hubungan RI-Amerika Serikat.

Mengusung tema ’Indonesia’s Approach to Counter Terrorism: Prevention, De-Radicalization, Re-Integration’, forum terbuka untuk publik ini mengangkat pembahasan seputar sepak terjang BNPT menghadapi isu Foreign Terrorist Fighters (FTF) sebagai dampak terdesaknya ISIS di Suriah.

Menghadapi permasalahan yang sedang memanas tersebut, Kepala BNPT menjelaskan kepada peserta forum bahwa BNPT tengah menyiapkan strategi nasional salah satunya adalah dengan menjadi koordinator pembentukan Satuan Tugas (Task Force), yang merupakan sinergi antar K/L terkait meliputi Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Nasional (BIN), TNI Polri, Kementerian Sosial dan institusi terkait lainnya. Satgas ini dibentuk untuk melakukan asesmen tentang pemulangan WNI yang memiliki kaitan dengan ISIS saat ini masih berada di Timur Tengah saat ini.

Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., kemudian memperkenalkan metode yang digunakan BNPT dalam menanggulangi terorisme dan menghadapi kasus ekstremisme berbasis kekerasan yaitu dengan pendekatan soft power, lain hal nya dengan Amerika Serikat yang memiliki tendensi untuk menggunakan pendekatan hard power dalam menghadapi permasalahan terorisme.

Dikutip dari pembicaraan dengan jurnalis BeritaBenar, Kepala BNPT menganggap bahwa

Ika Inggas / benarnews
Ika Inggas / benarnews

cara-cara represif menangani permasalahan radikalisme dan terorisme justru akan menimbulkan problema baru. “Suatu yang keras jika kita pukul dengan kekerasan maka ini akan hancur, tapi ini bukan barang mati, tapi barang hidup yang menjadi sel-sel teroris yang akan tumbuh lagi,” ungkapnya.

Di depan peserta yang sebagian besar merupakan akademisi, pelajar dan diaspora Indonesia yang menetap di Amerika Serikat, Kepala BNPT mengimbau untuk mewaspadai infiltrasi bahaya radikalisme dan terorisme yang dapat saja dialami oleh berbagai lapisan masyarakat jika pemahaman mengenai kebersamaan sebagai satu bangsa tidak kuat.

“Jika ada yang terlihat janggal, untuk segera dilaporkan. Kita lakukan pendekatan dengan soft approach. Tolong ingat kembali sejarah, bahwa kita lahir dari keberagaman. Sumpah Pemuda, jauh sebelum Indonesia merdeka sudah ada. Jangan ditinggalkan itu, sehingga kita punya rasa kebersamaan yang kuat sebagai satu bangsa,” imbau Kepala BNPT.

Dalam beberapa hari kedepan, Kepala BNPT dan delegasi juga akan mengadakan pertemuan dengan perwakilan dari Departemen Pertahanan Amerika dan juga pejabat dari Dewan Keamanan Nasional Amerika untuk membahas isu terorisme terkini yang sedang dihadapi oleh kedua negara.

Sumber: benarnews