Jakarta – Menurunnya kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai-nilai Pancasila, dan cinta tanah air untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Dibutuhkan kerja sama yang kuat antara pemerintah, tokoh bangsa, dan masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan mencegah adanya radikalisme dan terorisme di Indonesia. Hal ini pun yang menjadi fokus salah satu tokoh kebangsaan, Lily Wahid.

Bertempat di kantor Badan Nasional Penanggulangan Teorisme Jakarta, pada Selasa (29/10) pagi, Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., didampingi oleh Direktur Pembinaan Kemampuan, Brigjen Pol. Drs. Imam Margono, menerima kunjungan Adik Kandung Presiden ke-4 RI Gus Dur, Lily Wahid, Ketua Pokja ISTT KEIN (Komite Ekonomi dan Industri Nasional), Andri B. Sudibyo, dan tokoh NU-Circle, Gatot Prio.

Pertemuan yang dilaksanakan selama kurang lebih satu jam tersebut, mendalami tentang kekuatan, dan mengentas masalah kebangsaan di tengah-tengah masyarakat. Isu intoleransi yang bisa mengarah ke pemahaman radikalisme pun bisa berkembang cepat bila tidak dilakukan pencegahan dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air di tengah masyarakat.

Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. menilai, saat ini tantangan yang dihadapi pemerintah dalam penanganan radikalisme dan terorisme ini sudah menantang secara global dan mendunia. Terlebih perkembangan teknologi digital mampu merubah pemikiran seseorang. Oleh karena itu, kolaborasi pemerintah dan tokoh-tokoh bangsa kian diperlukan guna pembentukan karakter diri dengan cinta Pancasila dan tanah air.

“Kita juga memberikan penguatan karakter itu mulai dari anak usia dini sampai ke atas, dengan dinamika teknologi informasi yang membuat dunia dalam genggaman itu sangat berbahaya, kalau kita tidak punya kemampuan untuk memfilter, memverifikasi, dan sebagainya. Maka kita komunikasikan dengan ibu Lily dengan Tim NU ini untuk mencari solusinya bagaimana treatment yang pas, seperti itu dan kita juga kita berdiskusi untuk menyelesaikan masalah-masalah,” ungkap Kepala BNPT.

Disisi lain, Lily Wahid mengatakan keterlibatan masyarakat dan penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi kunci pencegahan radikalisme dan terorisme ke depan. Metode pendekatan yang dilakukan BNPT saat ini dibawah kepemimpinan Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., merupakan metode soft approach, dimana memimpin dengan hati nurani lebih bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Banyak target maupun program deradikalisasi yang berhasil dilakukan guna menurunkan angka pemahaman radikalisme, hingga adanya tindakan terorisme.

“Kita melihatnya karena lebih banyak target yang bisa dicapai, dalam artian deradikalisasi juga terlihat di masyarakat itu ada kesadaran masyarakat jadi mungkin pendekatan beliau ini memang beda tidak kaya dulu secara fisik dengan serangan-serangan kepada kelompok-kelompok yang dituju tetapi beliau lebih kepada pendekatan hati nurani, jadi itu kayaknya lebih pas dengan masyarakat kita yang memang sangat peka kalau dituduh tuduh itu mereka langsung pertahanan defensif gitu ya, nah ini pendekatan-pendekatan beliau ini lebih mencapai sasaran nya,” tambah Lily Wahid di akhir pertemuannya dengan Kepala BNPT.

Di akhir pertemuan, keduanya pun berharap agar kerja sama dengan masyarakat di setiap daerah di Indonesia, lebih intens dilakukan sehingga penanganan anti terorisme di masyarakat pun bisa dimengerti dengan kesadaran diri akan pentingnya mempertahankan nilai-nilai Pancasila, dan tanah air, agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terpecah.