Bali – Masifnya persebaran paham radikalisme disadari oleh kalangan akademisi di Indonesia. Di saat yang sama, gaung Pancasila juga melemah di kalangan pelajar, terlebih di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gelombang globalisasi.

Keresahan tersebut mendorong para akademisi dan pimpinan perguruan tinggi untuk mengadakan pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia yang kali mengangkat tema tentang Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme. Bertempat di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Selasa(25/09/2017), kegiatan tersebut mengundang Kepala BNPT sebagai salah satu pembicara.

Di hadapan ribuan pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. membahas kewaspadaan nasional dalam menghadapi gerakan radikalisme. Mantan Kadiv Humas Polri ini mengarahkan agar pimpinan perguruan tinggi dapat mengarahkan mahasiswa supaya tetap terjaga nilai-nilai Pancasila dan kewarganegaraannya.

“Indonesia sekarang memerlukan ahli ketahanan Indonesia, dan bapak-ibu selaku pemimpin perguruan tinggi dan akademisi adalah ahli ketahanan Indonesia,” tegasnya.

Generasi muda sebagai sasaran empuk persebaran paham radikalisme dan terorisme, perlu mawas diri dan dalam didikan akademisi. Wawasan kebangsaan dan bela negara dapat ditanamkan melalui pendidikan, dan disinilah perguruan tinggi sangat berperan.

“Para pemimpin dan akademisi, Indonesia akan kita warisi ke generasi muda, budaya dan nilai kebangsaan Indonesia harus terus menjadi warisan. Maka awasi dan kawal terus generasi muda ini, kita juga harus awas terhadap konten media dunia maya,” tutup alumni Akpol tahun 1985 ini.

Selain Kepala BNPT, aksi kebangsaan ini turut mengundang Kapolri, Jenderal (Pol) Drs. H.M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D., Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. H. Mohammad Nasir P.hD, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila(UKP PIP) Yudi Latif, dan tokoh agama, Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif.