Jakarta – Untuk memperkuat fungsi dan peran Masjid dalam pencegahan pemahaman radikalisme di kalangan Mahasiswa, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan pemahaman menyeluruh akan bahaya radikalisme dan terorisme di tengah mahasiswa Tafsir Hadis perwakilan dari berbagai kota di Indonesia.

Acara yang ini digelar oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) ini, digelar di Aula Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur pada Rabu (28/8) pagi. Peserta yang tergabung dalam Halaqah Mahasiswa Tafsir se Indonesia ini diharapkan bisa berperan aktif untuk menanggulangi bibit-bibit pemahaman radikalisme, terutama di ruang lingkup Mahasiswa. Acara ini mengusung tema “Dari Masjid untuk Indonesia Damai”.

Kepala Badan Nasional Penanggulanan Terorisme (BNPT), Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., menyampaikan bahwa saat ini banyak sekali pengaruh ajaran-ajaran keras yang bisa mempengaruhi mahasiswa. Pengaruh yang dimaksud diawali dari lingkungan dan pergaulan yang negatif yang bertemu dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Peran Masjid dinilai sangat penting karena seringkali Masjid digunakan untuk kegiatan agama seperti Kajian Ilmu dan lain-lain. Namun tidak sedikit dari kelompok radikal yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menularkan ideologi mereka melalui pendekatan Agama. Terlebih kelompok yang memiliki pemahaman radikalisme, menguasai Hadis maupun Al-Quran menggunakannya sebagai landasan melakukan doktrin kepada jamaah ataupun pemuda pemudi di lingkungan masjid tersebut.

“Besar sekali pengaruhnya, salah satunya kan di masjid. Masjid inilah yang kita ingin mereka mahasiswa-mahasiswa ini bisa turun agar tidak kehilangan arah karena kan ada yang menebarkan kebencian,” ujar kepala BNPT.

Selain Kepala BNPT, Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., turut hadir Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. sebagai pembicara dalam acara seminar ini. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., pun meminta agar jangan menebar kebencian, pertengkaran, karena hal ini bertentanganan dengan Islam itu sendiri. Dan jangan menggunakan Al-Quran dan Hadis untuk misi yang bertentangan dengan spirit-nya Al-Qur’an Hadis.

“Maka itu kehadiran tafsir hadis dan mahasiswa adalah cikal bakal pembicara Al-Quran untuk masyarakat Indonesia. Mereka yang paling berhak berbicara atas nama Al-Quran dan Hadis, bukan kelompok minoritas yang tidak tahu ideologinya apa, tujuannya apa, membajak Al-Quran untuk kepentingan subjektifitasnya,” ujar K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Dalam sesi tanya jawab, Mantan Sekretaris Lemhannas tersebut menerima masukan dari peserta. Masukan tersebut terkait bagaimana menyikapi paham radikal di lingkungan sekitar mereka. Karenanya, BNPT sebagai lembaga pemerintah dalam menanggulangi terorisme akan melakukan upaya pencegahan lebih mendalam, khususnya di daerah-daerah.

Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., berharap para Mahasiswa dapat berberkontribusi penuh untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan radikalisme di tengah-tengah masyarakat.

“Saya berharap banyak dengan adanya kegiatan ini dan saya sudah perintahkan saya sudah minta nama-namanya. Saya akan minta kepada deputi pencegahan untuk ke depannya, Kami berharap adik-adik ini bisa menjadi volunteer,” ujar mantan Kadiv Humas Mabes Polri.

Salah satu peserta seminar, Halimah, mahasiswa Tafsir asal Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta merasa puas akan adanya seminar dan paparan lebih dalam dari kepala BNPT. Ia pun menyadari, banyaknya pemahaman radikal tidak hanya karena faktor agama. Namun, faktor ekonomi, sosial, dan pola pikir, menjadi salah satu penyebab meningkatkan pemahaman radikalisme di Indonesia.

“Bagus banget materi seminarnya dari Pak Suhardi, sebagai orang awam saya jadi lebih tau bagaimana situasi dan pemahaman radikal di lingkungan masyarakat. Bahkan tidak dipungkiri memang pola pikir menjadi unsur yang paling dikhawatirkan bagi seseorang untuk mendoktrin pemahaman radikal yang berdasarkan ayat Al-Quran dan Hadis yang seringkali disalahgunakan. Terlebih, agama (terutama Islam) bukanlah faktor satu-satunya yang menjadi penyebab seseorang itu punya pemahaman radikal, tapi dari unsur ekonomi juga, pergaulan, dan lain-lain,” ungkap Halimah.