Padang – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., kembali memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat mengenai penguatan wawasan kebangsaan sebagai upaya mencegah radikalisme dan terorisme di lingkungan perguruan tinggi.

Bertempat di Convention Hall Universitas Andalas pada Kamis (22/08) pagi, kuliah umum ini dihadiri oleh segenap civitas akademika termasuk Majelis Guru Besar, para Wakil Rektor, Senat, Dekan, Kepala Biro dan pejabat struktural di lingkungan Universitas Andalas.

Mengawali kegiatan, Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA, memberikan kata pengantar untuk membuka kuliah umum kali ini. Disampaikan bahwa paham radikalisme negatif dapat muncul secara diam-diam khususnya di lingkungan perguruan tinggi. “Paham radikalisme dapat muncul diam-diam, bahkan masuk di lingkungan perguruan tinggi. Paham tersebut sangat merusak dan dapat menciderai bahkan mengubah pilar kebangsaan kita yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita harap tidak akan ada paham-paham negatif yang mengubah negara kita,” ujar Rektor Universitas Andalas.

Di hadapan 800 mahasiswa baru yang berasal dari berbagai fakultas dan jurusan, Kepala BNPT mengawali kuliah umum dengan mengungkapkan keresahannya atas pergeseran nilai-nilai kearifan lokal yang sedang dialami khususnya di tengah masyarakat Sumatera Barat. Sejarah dan akar budaya kian terlupakan, kini masyarakat cenderung apatis dengan perubahan-perubahan yang ada di sekitar lingkungannya.

Bentuk keapatisan terhadap nilai-nilai budaya ini disinyalir karena saat ini masyarakat cenderung bergantung dengan teknologi internet. Informasi yang beredar sulit untuk disaring, apalagi yang berbau perpecahan sehingga dapat melunturkan rasa kebersamaan sebagai satu bangsa. Hal ini menjadi celah besar masuknya paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

“Siapa yang tidak kenal Ulama-Ulama besar dari Sumatera Barat seperti Buya Hamka, banyak sekali diplomat-diplomat ulung dan sastrawan yang besar asal tanah Minangkabau. Jangan tinggalkan sejarah bangsa kita, jangan lupakan asal muasal dan kearifan lokal yang penting bagi kita hanya karena sekarang disibukkan dengan gadget. Hanya gara-gara hoaks di media sosial, kita berseteru dengan saudara kita. Begitu hebatnya gadget bermain, bukti dunia hanya ada dalam genggaman kita,” ujar Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.

“Kita akan berupaya mengaktifkan kembali kearifan lokal dan budaya, kita harus ingat kembali kemajuan dan kehebatan bangsa. Nilai-nilainya harus kita kembalikan sehingga negara kita bisa maju tetapi dengan tidak melupakan sejarah,” lanjutnya.

Peringatan untuk kembali menerapkan pendekatan sejarah dan meningkatkan rasa nasionalisme di kehidupan sehari-hari ini secara khusus ditujukan kepada para mahasiswa baru Universitas Andalas terlebih sebagai salah satu Universitas terbaik di Indonesia, Universitas Andalas dituntut untuk melahirkan generasi muda unggul yang akan menjadi masa depan Indonesia. Anak muda yang masih memiliki idealisme tinggi inilah yang mudah sekali terpapar dan terkena infiltrasi paham radikalisme.

Usai acara, Rektor Universitas Andalas menyampaikan harapan agar para mahasiswa didik Universitas Andalas termotivasi dan tergugah untuk lebih menyadari atas bahaya radikalisme yang bisa saja mengancam keluarga maupun teman di lingkungan sekitar mereka. “Pembekalan ini sangat penting bagi mahasiswa civitas akademika di lingkungan Universitas Andalas. Mahasiswa kita yang hadir sekitar 800 orang padahal mahasiswa kita seluruhnya berjumlah 5.500 mahasiswa, semoga dengan wawasan yang diberikan oleh Bapak Suhardi Alius, mereka dapat tahu mana pengaruh yang negatif dan mana yang positif dan mengingatkan mereka kembali akan wawasan kebangsaan ini,” tutup Prof. Dr. Tafdil Husni, SE, MBA.