Gorontalo – Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H., kembali memberikan pembekalan tentang bahaya radikalisme dan terorisme di perguruan tinggi yaitu di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Kegiatan ini merupakan kali pertama Kepala BNPT menginjakkan kaki di Kota Serambi Madinah. Acara yang dilaksanakan guna memulai tahun ajaran baru ini dilaksanakan pada Jum’at (6/08) pagi di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Plh. Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Mahludin H. Baruwadi, M.P. memberikan kata pengantar untuk mengawali kuliah umum kali ini. Dengan hadirnya Kepala BNPT untuk memberikan pembekalan seluruh Civitas Akademika Universitas Negeri Gorontalo menandakan awal UNG berkomitmen menolak radikalisme di kampus. “Mudah-mudahan hari ini jadi titik awal Universitas Negeri Gorontalo menentang paham radikalisme intoleransi dan terorisme. Mudah-mudahan kedepannya kita akan semakin cinta NKRI, ujar Plh. Rektor Universitas Negeri Gorontalo.

Acara kemudian secara resmi dibuka oleh pemberian kata sambutan dari Kapolda Gorontalo, Irjen. Pol. Drs. A. Rachmad Fudail, M.H. Dalam sambutannya, Kapolda Gorontalo, menjelaskan bahwa permasalahan radikalisme dan terorisme dinilai menjadi ancaman yang tidak hanya menjadi tusi BNPT ataupun Polri semata untuk mengatasinya, namun juga harus ada peran masyarakat di dalamnya. Kapolda Gorontalo kemudian menambahkan bahwa secara geostrategis, Provinsi Gorontalo masih berpotensi untuk menjadi daerah sasaran maupun daerah persinggahan penyebaran paham radikal.

“Provinsi Gorontalo secara geografis berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tengah yang saat ini jadi basis pelatihan maupun sebagai lokasi aksi para pelaku teror. Di sisi sebelah utara, Provinsi Gorontalo berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan daerah tapal batas negara Indonesia dengan Filipina, yang juga merupakan basis pusat keberadaan jaringan pelaku teror di Asia,” ujar Kapolda Gorontalo mengingatkan.

Ditambahkan bahwa selama ini Polri khususnya Polda Gorontalo terus berupaya melakukan penertiban penegakan hukum bagi kelompok radikal dengan terukur melalui pengamanan wilayah perbatasan, sambang desa, monitoring dan pemetaan wilayah bekerja sama dengan Densus 88 Anti Teror dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) untuk merangkul berbagai kelompok masyarakat.

Kepala BNPT mengawali materinya dengan menjelaskan bahwa fenomena kemajuan teknologi sebagai ciri globalisasi dapat menjadi boomerang jika tidak dapat dimanfaatkan secara arif. “Inilah yang menjadi akar masalah kita, kemajuan teknologi harus kita terima, tapi bisa menimbulkan hal-hal negatif juga. Banyak berita hoaks beredar karena tidak punya kemampuan verifikasi. Harus hati-hati, tabayyun dulu jangan main share saja,” imbau Kepala BNPT.

Pria yang pernah menjabat menjadi Kabareskrim Polri ini menyatakan bahwa dengan didorong kemajuan teknologi, semua orang yang memiliki akses terhadap gawai dapat terpapar khususnya anak muda yang sehari-harinya memiliki kecenderungan tinggi untuk menggunakannya. Status sosial bahkan pendidikan tidak lagi menjadi ukuran seseorang bisa terpapar.

“Tidak ada satupun daerah yang steril dari ancaman radikalisme maupun terorisme bahkan tidak ada status sosial seperti apapun yang tidak terinfiltrasi. Tolong saling mengingatkan. Jika anak muda sampai terpapar dan digiring bisa hilsang masa depan kalian. Ada bencana kebangsaan jika kita tidak mampu mengakselerasinya, Gorontalo harus kalian bangun dan majukan. Tugas kalian itu Jihad dengan belajar tepat waktu, supaya cepat menyelesaikan pendidikan dan mencapai cita-cita. Jangan bias kemana-mana,” ujar Kepala BNPT mengingatkan.

Setelah kegiatan, Prof. Dr. Ir. Mahludin H. Baruwadi, M.P., selaku Plh. Rektor Universitas Negeri Gorontalo menjelaskan bahwa kedepannya pendidikan kebangsaan akan diterapkan secara komprehensif di dalam kurikulum UNG guna menguatkan daya tangkal mahasiswa akan bahaya radikalisme dan terorisme.

“Ini kuliah umum yang sangat filosofis dan substantif, diperlihatkan bukti-bukti nyata tentang bagaimana bahayanya radikalisme, terorisme dan paham anti-NKRI. Dengan adanya kuliah umum ini, semoga para mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo memiliki referensi nyata agar mereka terhindar dalam paham negatif tersebut. Tentunya secara komprehensif, kita akan memberikan kuliah dan pelatihan baik di dalam kurikulum maupun ekstrakulikuler untuk menjaga mahasiswa dari paham radikal terorisme,” ujar Plh. Rektor Universitas Negeri Gorontalo.

Mengakhiri kegiatan, Kepala BNPT memberikan pernyataan pers untuk media yang hadir didampingi sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo yang merupakan putra-putri berprestasi asal Papua penerima beasiswa afirmasi sebagai simbol kebersamaan untuk senantiasa merajut Indonesia yang damai. Kepala BNPT kemudian melayangkan keprihatinannya atas situasi terkini di Indonesia yang mudah sekali dipecah-belah hanya karena berita hoaks dan ujaran kebencian yang diskriminatif tersebar tanpa kontrol di media sosial yang menjadi peluang timbulnya perpecahan di tengah masyarakat.

“Dari Aceh sampai Papua kita satu nusa, satu bangsa. Ini menunjukan kalau mereka adalah saudara-saudara kita jadi jangan sampai tercabik-cabik. Coba bayangkan, gara-gara semua bisa pegang gadget tapi kemampuan literasi, verfikasinya minim sehingga mudah sekali ditemukan kebohongan yang mendorong disintegrasi bangsa. Kita bersaudara, tidak ada Indonesia tanpa Aceh dan tidak ada Indonesia tanpa Papua, dicubit satu, terasa sakit kita semuanya. Ini yang kita  tanamkan, bagaimana nasionalisme, kesatuan negara kita harus kita pertahankan,” harap Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.