Bandung – Persebaran paham radikalisme negatif dan terorisme kian meresahkan karena mampu menyerang berbagai kalangan masyarakat. Seiring banyaknya ditemukan kejadian teror yang mengancam keamanan nasional, masyarakat pun juga harus menyadari bahwa membebankan tanggung jawab kepada negara untuk mengatasi permasalahan tersebut tidaklah cukup. Akar permasalahan radikalisme dan terorisme begitu kompleks dengan dampak yang mengancam kedaulatan negara sehingga pencegahannya juga butuh peran dari tiap elemen masyarakat.

Kini target infiltrasi paham radikalisme dan terorisme juga telah merambah ke kalangan anak muda. Penyebaran propaganda tersebut bisa saja berawal di rumah ibadah, institusi pendidikan, friendship dan kinship dan media internet. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk itu berupaya mengaktifkan fungsi cegah dini di masyarakat dengan cara senantiasa mengimbau dan mengajak masyarakat ikut berperan.

Kepala BNPT, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. diundang sebagai pemateri di acara Kuliah Umum Anti Radikalisme di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran (Unpad) pada Kamis siang (29/08) di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri Unpad, Bandung, Jawa Barat. Kuliah umum ini dihadiri oleh kurang lebih 1.100 mahasiswa baru Unpad dan segenap civitas akademika di lingkungan Universitas Padjajaran.

Plt. Rektor Unpad, Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE, mengawali acara dengan memberikan sambutan. Disampaikan tujuan diselenggarakannya kuliah umum ini tidak lain adalah sebagai bukti bahwa segenap civitas akademika Unpad siap mengawal segala upaya untuk mewujudkan Unpad sebagai kampus anti radikal. “Kita berkomitmen menjadi kampus terdepan yang menjaga pilar kebangsaan. Kami siap mengawal Unpad yang berprinsip anti radikalisme,” ujarnya.

Kepala BNPT kemudian mengawali kuliah umum kali ini dengan memberikan wawasan terkait tantangan-tantangan yang sedang dihadapi Indonesia dan apa saja idealnya yang harus dilakukan agar tidak terkena paparan radikalisme negatif. Dijelaskan bahwa terdapat banyak tantangan besar dalam memelihara persatuan yang sangat nyata di depan mata. Ketergantungan gawai sebagai efek samping dari modernisasi informasi dan teknologi bukti kita mudah digiring di era revolusi digital ini. Untuk itu, Kepala BNPT mengingatkan agar kita tidak boleh lengah sebagai bangsa karena ada identitas yang harus kita pelihara.

“Segala potensi (terpapar paham radikal negatif) itu ada, sebagai bangsa kita harus punya resilience, daya tahan. Kadang-kadang kita terbuai dengan globalisasi yang menguji kebangsaan kita. Sekarang banyak kelompok yang merasa superior sendiri, padahal dari dulu ada komitmen kebangsaan. Konsensus dasar yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI yang didalamnya cita-cita nasional jelas ada disana,” ujar Kepala BNPT.

Saat ditemui di akhir acara, Plt. Rektor Universitas Padjajaran menjelaskan bahwa para mahasiswa menyambut dengan antusias terhadap paparan dari Kepala BNPT.

“Mereka adalah pemimpin masa depan, makanya kita bekali bahwa selain dari kuliah dengan baik, mereka juga harus bisa bermasyarakat, cinta tanah air dan punya wawasan kebangsaan. Sehingga mereka bisa meyakini bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia. Sehingga jika ada hal-hal yang sifatnya mengganggu keutuhan NKRI mereka bisa segera action,” ujar Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE.

Dijelaskan pula terkait beberapa usaha nyata yang telah diterapkan Unpad agar seluruh elemen di lingkungan Unpad terbebas dari radikalisme. Tidak hanya mahasiswa yang perlu berperan aktif tetapi juga para pimpinan dan segenap civitas akademika Unpad.

“Kita punya mata kuliah yang di dalamnya ada prinsip dan di internalisasi sebagai warga negara. Dosen-dosen juga sebagai tenaga pengajar secara berkala mencoba menginternalisasi itu. Tujuannya untuk menjaga toleransi Kebhinekaan, kebahagiaan hidup bermasyarakat diluar dari kegiatan kemahasiswaan. Sekali lagi ini tujuannya agar Kampus Unpad menjadi kampus yang menjaga kesatuan NKRI, dimulai dari peran serta mahasiswa dan seluruh civitas akademikanya,” lanjutnya.

Menanggapi upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Unpad dalam menerapkan pentingnya wawasan kebangsaan bagi pembangunan karakter para mahasiswanya, Kepala BNPT memberikan apresiasi yang sangat besar. “Banyak hal-hal yang telah dikerjakan oleh Unpad, dalam rangka merajut Kebhinnekaan dengan baik. Pelajaran-pelajaran seperti etika Pancasila tidak lagi bersifat doktrin, tetapi sudah dengan cara membangun empati. Dengan ikut berdiskusi sehingga lebih bermanfaat bagi mereka,” ujarnya.

Mempertahankan dan menerapkan hal seperti ini kedepannya tidak mudah. Namun Kepala BNPT merasa optimis, bahwa Unpad dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut. Terlebih sebagai salah satu universitas yang unggul yang bertanggung jawab besar melahirkan pemimpin bangsa dari tanah Pasundan.

“Unpad menjadi salah satu perguruan ternama yang melahirkan calon-calon pemimpin bangsa. Saya minta tolong untuk mereka semua agar merawat ini semua. Kita bisa kok mengendalikan dan mengenal awal terpapal (radikalisme negatif) dan tentu kita bisa ikut berkontribusi untuk menghindarinya,” harap Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H.