Makassar – Hadir sebagai pengisi materi kuliah umum Sekretaris Utama BNPT, Marsda TNI Dr. A. Adang Supriyadi kembali memberikan pembekalan kepada generasi muda. Pada kesempatan kali ini, kuliah umum disampaikan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Auditorium Kampus 2 pada Selasa pagi (30/08). Pembekalan diberikan sebagai rangkaian acara tahunan fakultas untuk menyambut masuknya mahasiswa-mahasiswi baru dengan tema Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK).

Kegiatan diawali oleh sambutan Ketua Panitia PBAK,Nur Aliyah Zainal, M.A. yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Hubungan Internasional, dilanjutkan oleh Dr. Muhsin Mahfudz, M.Th.I selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik. Disampaikan dalam sambutan Dekan tujuan diselenggarakannya PBAK kuliah umum ini tidak lain adalah sebagai upaya mencegah internalisasi nilai negatif ketika berhadapan dengan radikalisme.

“Tak lain agar mahasiswa-mahasiswi tidak menjadi generasi yang radikal yang memahami Islam secara negatif. Mari kita bangkitkan Ushuluddin ini sebagai pusat kajian, gudangnya para pemikir Islam,” ujarnya.

Di hadapan 844 mahasiswa UIN Alauddin, mantan Dosen Fakultas Universitas Pertahanan, Dr. A. Adang Supriyadi menjelaskan terkait struktur, dan peran BNPT. Dijelaskan pula perbedaan radikalisme positif dan negatif agar para peserta dapat membedakan radikalisme yang membahayakan.

“Radikalisme tidak semuanya negatif, ada juga radikalisme yang sifatnya positif. Radikalisme negatif yang mengandung unsur anti NKRI, anti Pancasila dan intoleransi. Sementara radikal yang positif itu dengan berikan saran, solusi dan berinovasi demi kepentingan membangun bangsa yang lebih baik,” jelas Sestama BNPT.

Menanggapi paparan dari Sestama BNPT, Dr. Muhsin Mahfudz, M.Th.I., berharap para mahasiswa dapat menyerap wawasan baik tentang radikalisme dan deradikalisme. Setelah menerima kuliah umum, mahasiswa bisa sejak dini membekali diri untuk menghindari hal-hal yang bisa memicu suburnya radikalisme negatif.

“Radikalisme tidak selalu hal yang negatif, tetapi radikal di dalam kebaikan itu saya kira bagus, yang tidak baik adalah ketika ekspresi radikalisme itu diwujudkan dalam tindakan yang merusak, seperti pengeboman, pembunuhan dan menebarkan ancaman,” ujarnya.

Melibatkan BNPT dalam penyambutan mahasiswa baru juga berkaitan dengan trend radikalisme yang menyusupi perguruan tinggi. Setidaknya hal tersebut hendak dicegah pihak Universitas Islam Negeri Alauddin.

“Trend radikalisme sekarang ini menunjukan banyak komponen kampus yang terpapar paham-paham radikalisme, sehingga momentum penerimaan mahasiswa baru ini sangat tepat untuk mengundang pihak BNPT untuk memberikan paparan bagaimana wawasan dan bahaya radikalisme untuk mahasiswa baru,” lengkap Dr. Muhsin Mahfudz, M.Th.I.